Berartinya Orang Tua Bagi Kehidupanku, Mereka Adalah Pahlawanku

Setiap langkah kedua orang tua saya di dunia ini adalah untuk kebahagiaan anak-anaknya, mereka adalah pahlawanku.


YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Kenapa saya memilih orang tua saya sebagi pahlawan di sekitar saya , karna mereka telah banyak berjasa demi pendidikan saya , prestasi saya, dan sampai saya kecil dan sampai sekarang dan seterusnya mereka tetap pahlawan saya. Banyak pengorbanan yang telah orang tua saya lakukan dari biayai saya sekolah, makan, sampai sekarang ini sampai saya kuliah.

Orang tua saya bernama Rasmanto lahir di Pati 31–10 –1961  dan Srimurwati lahir di Pati 30- 11–1964. Mereka berdua merantau dari pulau Jawa ke pulau Papua pada tahun 1977, di mana papua waktu itu apalagi di tempat ku yaitu Nabire masih sangat sedikit yang tinggal di sana, orang tua saya dulu berjualan nasi kuning di pasar ikan.

Saya lahir di Nabire 17 september 1998.  Saya lahir di papua lebih tepatnya di Bumiwonorejo. Swaktu pas di kandungan mamak dan keempat kakak saya mengalami tragedi di mana rumah yang di tempati orang tua saya ikut terbakar oleh orang tak bertanggung jawab di mana tempat pembakaran pada waktu itu berupa pasar, sewaktu sebelum saya lahir keluarga saya tinggal di pasar lebih tepatnya pasar ikan. Peristiwa itu yang saya ingat setelah kedua orang tua saya memberitahu proses di mana orang tua saya mengandung saya selama 9 bulan. Saudara dekat saya pun juga bercerita demikian bahwasannya mamak saya sedang mengandung saya 8 bulan sewaktu kejadian kebakaran tersebut.

Menurut saya kedua orang tua saya lebih dari segalanya, rela berkorban demi seorang anak yang dia cintai dan sayangi. Saya di lahirkan di keluarga yang alhamdulillah bahagia. Saya dulu bersekolah di SD inpres Bumiwonorejo. Sewaktu saya kelas 6 SD, saya dan teman-teman main ke kali atau di sebutnya sungai, pertama mengasikkan bahkan saya sampai menyebrang ke sebrang sungai tersebut, tapi pas setelah saya sudah mulai merasa bosan bermain dan ingin balik ke rumah lalu nyebrang ke sebrang itu arus sungai mulai deras dan akhirnya saya pun terseret oleh tuan tanah, tuan tanah di sini maksutnya adalah pemilik tanah yaitu makhluk gaib yang menarik saya ke dalam sungai, tapi alhamdulillah saya di selamatkan oleh teman saya yang bernama Jhon. Sesampainya di rumah saya di tanyai sama orang tua, “Kata mas mu kamu tenggalam iya?”. Ku jawab dengan polosnya, iya. Seketika mamak memarahi saya dengan nada yang keras karna khawatir sama anaknya.

Orang tua saya adalah pahlawan saya yang sesungguhnya. Saya 5 bersaudara, kakak saya yang pertama bernama Lilik Irianti, ke dua Jumadi Irianto, ke tiga Suprianto, keempat Muhammad Sunarto, dan saya sendiri Edi Sutrisno. Bagaimana saya tidak mengatakan kedua orang tua saya hebat, mamak telah melahirkan 5 orang anak dan alhamdulillah keempat–empatnya kuliah semua dan saya sendiri baru memasuki semester 3. Segala kerja keras kedua orang tua sayalah yang membuat keempat anaknya bisa lulus sarjana. Keempat suadaraku kini telah berkerja, ada yang berkerja di bank, dan ada yang berwirausaha. Atas kerja keras kedua orang tua saya saudara-saudaraku kini bisa mandiri setelah lulus menjadi sarjana. Bagi saya setiap pengorbanan orang tua itu sangat berharga dalam setiap langkah mereka untuk kebahagian anak-anaknya.

Sewaktu kelas 1 SMA saya pernah ikut kejuaraan taekwondo di papua lebih tepatnya kejuaraan kabupaten (kejurkab) di jayapura. Saya berlatih terus dengan keras dan teman teman semua juga di tekan terus agar bisa membawa pulang medali ke Nabire. Saya berdoa kepada Allah SWT agar saya bisa menang di kejuaraan taekwondo tersebut. Seiring berjalannya waktu dan sudah mencapai H-1 keberangkatan menuju ke Jayapura, saya meminta ijin kedua orang tua saya dan ke semua saudara saya agar diberi kelancaran dan bisa membawa pulang medali ke rumah. Menurut saya doa orang tua itu adalah yang paling manjur untuk melancarkan dalam segala hal kegiatan.

Perjalanan saya ke Jayapura melalui jalur laut menaiki kapal laut besar. Perjalanan dari Nabire ke Jayapura memakan waktu satu hari perjalanan. Sesampainya di Jayapura langsung saya menghubungi kedua orang tua, kalau saya sudah sampai di Jayapura dengan selamat. saya dan teman teman beristirahat satu malam dan paginya melanjutkan aktivitas yaitu latihan menendang target taekwondo seterusnya sampai hari H begitu terus. Sewaktu latihan taekwondo pas TC (Training center) saya mengalami hal yang sangat menurut saya sendiri menggangu dalam berlatih, yaitu cidera kaki di mana taekwondo juga fokusnya ke kaki. Saya merasa terhambat karena cidera. Saya pun bercerita ke orang tua. Mereka berdua sedih dan hanya bisa berdoa sembari memberi semangat agar saya tidak mudah pantang menyerah dan tetap berjuang sampai titik darah penghabisan.

Sesampainya hari H pertandingan di GOR jayapura, sebelum bertanding saya kembali menelfon kedua orang tua saya meminta doa mereka agar dilancarkan semua dan bisa meraih medali emas, namun 3 babak berlalu saya melihat skor terlampau sangat jauh dan akhirnya wasit pun memutuskan lawan tanding saya yang dari biak itu lah yang lanjut ke babak selanjutnya. Di situ saya sedih karna tidak menang dalam perlombaan di Jayapura.

Akhirnya perjalan saya di pertandingan berakhir. Kontingen kami dari Nabire yang bertanding di Jayapura pulang ke nabire. Saya berjanji pada diri saya sendiri bahwasannya tidak akan putus sampai di sini, dan selang 2 tahun ada pertandingan taekwondo yakni pada tahun 2016 di Nabire.

Saya bertanding melawan orang yang cukup tangguh, dan seketika body protector yang saya pakai talinya terlepas dan saya melihat ke belakang body protector, terkenalah tendangan tepat di kepala namun pada saat itu saya sudah memastikan gelar juara 3 dari 4 orang yang bertanding. Tidak banyak memang yang mengikuti pertandingan karena taekwondo memiliki persyartan tertentu di mana berat badan peserta tidak boleh di atas 70 kilogram, dan pada saat itu berat badan saya 63 kilogram sehingga saya memasuki kategori welter.

Singkat kata singkat cerita saya sudah kelas 3 dan ingin melanjutkan pendidikan namun orang tua saya sangat ingin anaknya menjadi seorang polisi akhirnya saya mengikuti tes Polri tetapi tidak tembus dikarenakan kurang tinggi. Tidak patah arang saya dan bapak  ke jayapura untuk mendaftar menjadi TNI. Ketika menunggu pengumuman untuk test selanjutnya saya berlatih fisik dengan seseorang anggota TNI yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri oleh bapak saya. Dengan semangat saya mengikuti latihan tersebut, tapi saya mendapatkan kabar bahwasanya saya tidak lolos pendaftaran.

Di situ saya sedih sekali. Tapi mau  di kata apa, mungkin bukan jalan saya  di dunia kemiliteran, mungkin jalan ku adalah di dunia yang lebih luas yaitu media. Di mana saya sudah membuat plan B secepat mungkin yaitu melanjutkan kuliah bukan melainkan untuk test yang ke dua kali. Ya, saya sudah memutuskan untuk kuliah di jogja dan kedua orang tua pun menyetujui. Kenapa saya memlih jogja untuk melanjutkan pendidikan saya?  Karna Jogja masih istimewa dan apalagi ketiga kakak saya sebagian mendapatkan gelar sarjana di Jogja.

Tiba waktunya saya untuk berangkat ke Jogja melanjutkan pendidikan. Saya berpamitan ke kedua orang tua dengan sedih, saya ingat mamak saya berpesan, bahwa saya harus membanggakan mereka di kota lain, lulus dengan cepat, banyakin prestasi. Pesan yang beliau sampaikan ke saya itu yang saya ingat terus dan tidak akan pernah saya lupakan. Tak ketinggalan bapak saya juga memberikan pesan agar saya berhati-hati di Jogja, menjaga kesehatan dan membanggakan bapak. Akhirnya saya pun berangkat menggunakan pesawat dari Nabire ke Biak Makassar terus sampai di Surabaya.

Singkat cerita saya tiba di Jogja dan memilih FIKOMM Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Selama berkuliah di Mercubuana Yogyakarta saya pun memilih UKM taekwondo di dikarenakan saya dari awal sudah mengikuti beladiri tersebut dari kelas 1 SMA. Kesempatan untuk membanggakan kedua orang tua saya pun datang ketika ada pertandingan padahal waktu itu saya masih maba dan belum ospek tapi sudah mengikuti kejuaraan untuk membela taekwondo Mercu Buana, menjelang hari H saya pun mempersiapkan mental dan fisik saya agar saya menang dalam kejuaraan tersebut.

Saya meminta restu dari kedua orang tua saya agar menang dan mendapatkan medali di pertandingan tersebut. Hari H pun tiba dan di dalam bagan atau susunan pertandingan tersebut saya melawan dari orang dari Papua langsung dan di dalam bagan tersebut dari sekitar 4 orang saja.

Pada waktu pertandingan saya pun berusaha untuk menang namun kenyataan saya kalah dari orang Papua tersebut, namun saya mendapatkan medali yaitu juara 4 dan membawa pulang medali pertama di Jogja yaitu perunggu. Saya pun menyampaikan pesan bahagia ini kepada orang tua saya dan mereka sangat senang karna anaknya telah mendapatkan medali di Jogja untuk pertama kalinya.

Itulah kisah pahlawan saya yaitu kedua orang tua ku sendiri, di mana di dalam hati saya berkata akan berjuang dengan keras untuk sukses kemudian saya akan terus membahagiakan kedua orang tua saya, itu sudah menjadi kewajiban hidup saya.

Penulis: Edi Sutrisno

Editor: *R★.V.★N*

 

Tinggalkan Balasan