Ayah  Pahlawan Nyata Dalam Hidupku

Ayah adalah sesosok manusia cinta pertamaku. Pangeran penjaga hatiku. Pejuang tangguh untuk senyumku tiap hari. Ayah adalahlah pahlawan dalam hidupku.


MATAMEDIA-RI.com – Sebenarnya apasih hakikat dari seorang pahlawan? Seseorang yang membela negara, menolong orang lain, membela kaum yang lemah dan tertindas, atau yang melindungi sesama? Sepertinya semuanya benar, karena tidak ada arti yang mengikat dan definisi satu orang dengan yang lainnya dapat berbeda-beda. Para pahlawan pembela tanah air yang bertumpah darah dahulu kala memperjuangkan negara kita ini adalah pahlawan negara.

Pada umumnya pahlawan adalah seseorang yang berbakti kepada masyarakat, negara, bangsa dan atau umat manusia tanpa menyerah dalam mencapai cita-citanya yang mulia. Sehingga rela berkorban demi tercapainya tujuan, dengan dilandasi oleh sikap tanpa pamrih pribadi. Seorang pahlawan bangsa yang dengan sepenuh hati mencintai negara bangsanya sehingga rela berkorban demi kelestarian dan kejayaan bangsa negaranya disebut juga sebagai patriot.

Jangan pernah tanyakan, masih adakah pahlawan di masa modern seperti ini? Jangan pernah tanyakan masihkah ada yang pantas dijuluki pahlawan? Jangan pernah tanyakan! Karena sesungguhnya pahlawan-pahlawan itu begitu dekat dengan kita. Mereka bukanlah lagi yang berjuang dengan tombaknya, pedangnya, ataupun segala macam senjatanya untuk negeri ini. Mereka adalah yang mengambil bagian penting dalam kehidupan kita, bangsa kita, dan agama kita.

“Lantas apakah menjadi seorang pahlawan harus sampai bertumpah darah mengorbankan seluruh jiwa raga kita?”.

Lalu bagiamana dengan seorang Ayah yang setiap harinya bekerja keras membanting tulang demi menafkahi keluarga, melawan hiruk pikuk dunia, berjuang mati-matian membiayai sekolah, membesarkan anak dan membahagiakan keluarga. Ayah adalah sosok laki-laki terhebat, pangeran tampan dengan segala ketulusan dan kasih sayang khususnya bagi anak perempuan.

Seorang ayah bisa menjadi pundak bagi anak-anaknya untuk bersandar menyatakan keluh kesah, menjadi malaikat yang siap menolong saat kita mengalami berbagai kesulitan, walaupun hanya sekedar menghentikan tangis dan menggendong kita saat kecil terjatuh dari sepeda, menjadi sosok lelaki yang sangat diidamkan oleh putri kecilnya bak pangeran dalam dongeng, menjadi teman sekaligus kakak dan panutan yang bisa berbagi segala macam rasa dan bersiap mendengarkan macam aksara yang kita utarakan.

Tak bisa dipungkiri jikalau ayah adalah sosok yang cuek, atau bahkan seperti tidak peduli. Namun jauh dari kata itu, tidakkah kita bisa melihat dari sisi lain dan sadar bahwa dalam diamnya ia berpikir, mengkhawatirkan kita setiap detiknya yang soal-olah kita adalah bayi baginya walaupun kita sudah beranjak dewasa, berjuang mati-matian demi kebahagiaan dan memenuhi apa yang kita inginkan. Ayah memang tidak selalu ada untuk anak. Tapi dalam waktunya yang sedikit, semaksimal mungkin dia curahkan perannya sebagai ayah. Air matanya tak pernah dia teteskan di depan sang anak. Lelahnya tak pernah dia tampakan di depan sang anak, kasih sayangnya ditutupi dengan segala peraturannya. Untuk apa? Semata – mata hanya untuk menjadikan diri anak kuat, tegas, dan bisa mengambil keputusan ketika kelak dia sudah tiada.

Ketika menjadi seorang anak, rasanya memang merasa terkekang olehnya. Ketika dewasa dan belajar banyak rasa, dan pastinya ketika dia sudah tiada. Timbul kesadaran, dialah pahlawan seorang anak. Dia yang menempa diri sang anak menjadi sosok yang kuat, bahkan lebih kuat. Berkat sesosok ayah, terpaan, ujian, dan cobaan dunia seakan menjadi suatu hal yang kecil ketika sudah menjadi sosok yang berjiwa besar.

Ayah, Bapak, atau Abah kita adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat. Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis. Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. Dan dia adalah orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal. Janganlah kita dibutakan oleh dunia yang fana atau seorang pria yang tak kau kenali sebelumnya dan lupa akan sosok ayahmu.

Ayah adalah seorang pahlawan untuk negeri ini. Ayah adalah pencetak anak-anak bangsa. Ayah memang tak banyak berkata-kata. Ayah hanya memberikan ruang untuk kita belajar tegar. Tegak berani menghadapi pahitnya kehidupan melalui segala hal yang mampu ia lakukan. Ayah mempunyai cara tersendiri dalam mengapresiasi cintanya pada kita. Di ruang hati yang sangat luas, ada perasaan seorang ayah yang sangat lapang, yang tidak bisa dirasakan kecuali oleh seorang ayah. Karena ayah adalah ayah.

Adakah lelaki lembut yang menyayangimu seperti Ayah? Apakah suara keceriaan pantas diganti dengan isak hanya karena benda? Engkau yang mengajari sepasang kakiku untuk beranjak pulang, belajar kembali pada sisi ketenangan. Kini, aku lapang. Menggenapkan hati agar tak lagi meneteskan darah dan isak.

Jadi menurut pendapat saya pribadi, tidak ada arti khusus mengenai pahlawan dalam keluarga. Hanya saja perjuangan ayah ibu kita dalam mendidik dan membesarkan kita, dan terus berlanjut ke diri kita sendiri yang berjuang untuk keluarga kita adalah sebuah proses perjuangan panjang yang patut disamakan oleh aksi heroik dari perjuangan seorang pahlawan. Anak-anak butuh seorang sosok pahlawan untuk dijadikan panutan. Bisa jadi, semua usaha dan perjuangan yang Anda lakukan untuk mereka saat ini sedang ‘dipantau’ oleh mereka dan dijadikan standar oleh mereka tentang bagaimana seharusnya menjadi orangtua yang baik.

Tak perlu mencari jauh-jauh, keberadaan ayah di keluarga kita sudah lebih dari cukup membuat kita selalu merasa aman dan nyaman. Meskipun hingga sampai saat ini kita belum bisa membalas budi seorang ayah, namun menjadi seseorang yang sukses dan bahagia itu sudah cukup membuat seorang ayah merasa senang dan tenang di usia yang sudah tak lagi muda. Karena itu, hari pahlawan tidak hanya pada 10 November, tetapi berlangsung setiap hari dalam hidup kita. Setiap hari kita berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga. Artinya, kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing. Kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita rela mengorbankan diri untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar. Itulah pahlawan sekarang.

Dan teruntuk kalian para pembaca setia muda jadilah seseorang yang bisa melihat sisi lain dari seorang Ayah, menjadi seseorang yang berguna, membanggakannya menjadi apa yang mereka harapan. Kontribusi positif sekecil apapun akan menjadi hal baik bagi siapa saja. Jadilah pahlawan bagi dirimu sendiri dan tanah kelahiran aku, kau,kita dan mereka adalah pejuang generasi muda, bukan lagi sekedar anak ingusan yang suka gigit jari melainkan insan yang harus dapat melawan dirinya, berjuang, berprestasi, dan berkarya untuk peradaban, berkemajuan dan berakhlak.

10 November 2018
Pukul 10.11 WIB (Waktu Indonesia Berjuang)

Selamat Hari Pahlawan! Selamat Hari Ayah!

Penulis: Anisahnesyah

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan