Animation Expo 2018: Semangat Berkarya Animator-Animator Muda.

Berkumpulnya animator-animator muda  untuk membuka mata, membuka pikiran dan membuka wawasan berkarya.


YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Selama dua hari dari tanggal 16-17 November Himpunan Mahasiswa Animasi Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) Yogyakarta menyelenggarakan Animation Expo di Auditorium STMM “MMTC” Yogyakarta. Animation Expo (AXPO) di tahun ke empat penyelenggaraan ini mengangkat tema tentang “Pahlawan Masa Kini”. Himpunan Mahasiswa Animasi Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) Yogyakarta bersepakat bahwasanya pada peristiwa sumpah pemuda terdapat pahlawan muda yang ingin merdeka dan berdaulat sendiri dengan tonggak kesadaran nasionalisme, yang mempunyai arti orang yang menjunjung tinggi toleransi, mengedepankan kebersamaan dan mengindari perpecahan.

Salah satu tujuan di selenggarakannya Animation Expo untuk memperkenalkan mahasiswa-mahasiwi animasi Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) untuk berani mempublish karya mereka di Animation Expo, dimana ada 4 rangkaian acara besar dalam Animation Expo, yaitu Perilisan Trailer Film Animasi, Festival Animasi , Mini Pameran, dan Perilisan Komik Las K.

Sebelum memasuki Auditorium MMTC kami di sambut dengan senyuman panitia sembari berkata sugeng rawu yang artinya selamat datang. Memasuki didalam audit MMTC Yogyakarta, di sebelah kanan kami melihat proses awal pembuatan animasi, yaitu live drawing di stan Cintiq. Live drawing adalah proses menggambar secara langsung, nama alat yang digunakan dalam live drawing yaitu Cintiq. Cintiq ini adalah salah satu fasilitas dari MMTC Prodi Animasi.

“Di stand Cintiq pengunjung bisa merasakan alat yang dipakai untuk proses pembuatan animasi, jadi kita pamerkan supaya pengunjung bisa juga merasakan dan mencoba gimana sih rasanya alat yang dipakai untuk pembuatan animasi di MMTC ini,” terang Fransiska Rena yang merupakan sutradara dari film TUAI yang memutarkan trailer resminya di hari Animation Expo 2018.

Di sebelah kiri ada Photobooth untuk para pengujung berfoto dengan efek background belakang Animation Expo 2018. Di area tengah ada 11 poster karya film animasi dari para peserta yang telah mengirim karya mereka ke Animation Expo 2018 untuk mengikuti lomba karya film animasi. Ada 11 karya yang telah di seleksi oleh panitia, 11 karya tersebut diantaranya ada Gadis Kecil, Marzuki, Refleksi, Rantai, Si Anjing Kecil, Rangda, Salah Siapa, Delucid, Leuweung, Imaginary Night, Rangda II.

Animation Expo 2018 dibuka oleh sambutan Suparma, S.sos., M.Sn selaku kepala Jurusan Animasi dan Desain Teknologi Permainan serta perwakilan dari Bidang Kemahasiswaan. Lalu berlanjut kata pembukaan dari Drs. Arwin Darmawan selaku Kasubag Kemahasiswaan. Kata-kata pembuka terakhir dari Ketua Pelaksana Ilham Refianto Malik.

Rangkaian acara hari pertama Animation Expo pada sesi pertama yaitu screening 3 film animasi, yang pertama ada film animasi Gadis Kecil, Marzuki, Refleksi. Sesi ke 2 screening film animasi diisi oleh film animasi yang berjudul Rantai, Si Anjing Kecil dan Rangda. Rangkaian acara terakhir yaitu Talkshow yang mengundang Infinite Studio Batam yang notabene sudah terkenal di kalangan anak muda mahasiswa-mahasiswi Prodi Animasi sebagai salah satu studio animasi yang sudah mendapatkan pengakuan dari dunia internasional.

Screening pertama film Gadis Kecil dengan waktu durasi 04.43 menit karya dari Isni Kristina. Gadis Kecil menceritakan pada suatu hari di taman kampus dan saat sedang asyik melukis, Zoya yang di mana tokoh dari cowok bertemu seorang perempuan adik seniornya bernama Shena, pandangan itulah yang membuatnya jatuh hati, Shena adalah sosok perempuan yang cantik, baik dan pendiam. Sudah sejak lama Zoya memperhatikan Shena dan bahkan sejak pertama kali melihat Shena ketika mengikuti ospek saat semester satu. Film animasi ini dibuat pada tahun 2013.

Film yang kedua yaitu Marzuki dengan durasi 06.52 menit di produksi pada tahun 2018 oleh Ber3 Aja Production.

Film ini mengisahkan tentang nasib seorang mantan altet sepakbola yang menghabiskan sisa hidupnya sebagai guru honorer untuk menghidupi dirinya dan keluarganya, untuk menanti janji pemerintah yang tak kunjung datang yang membuatnya terus berharap tanpa kepastian dan berbagai carapun ia telah lakukan namun tidak ada segelintir harapan yang terlihat hingga akhir hidupnya.

Sesi pertama diakhiri dengan karya dari mahasiswa-mahasiswi Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) Yogyakarta dengan film Refleksi dengan waktu durasi 05.50 menit dengan tahun produksi 2018, dibuat oleh Fery Abiel Makarim dengan animasi 2D. Film ini menceritakan sang tokoh utama yaitu Raka seorang mahasiswa yang terkenal malas dan tak bersemangat sepanjang waktunya, dan ia selalu menjalani masa kuliahnya dengan malas sampai suatu ketika ia sempat tertidur di kelasnya dan bermimpi tentang sesuatu hal yang membuatnya tersadar tentang betapa berharganya peran seseorang yang mendukungnya.

Proses pembuatan film animasi Refleksi 2D selama dua bulan. Film Refleksi juga menceritakan kisah nyata dari seorang Fery Abiel Makarim seorang mahasiswa Jurusan Animasi yang malas dan tak bersemangat dalam hidupnya, karya ini juga untuk pengingat diri dari Fery untuk mengingat orang tuanya yang jauh. “Film ini terinspirasi dari perilaku saya sendiri, saya coba buat kepentingan diri sendiri untuk mengingat orang tua yang jauh tapi selain itu juga sebagai pengingat bagi orang-orang yang menontom film saya kesusahan dan jirih payah orang tua dalam mencari uang, orang tua kan sudah susah payah mencari uang buat kuliah buat kepentingan kita kok kitanya malah males-malesan,” ungkap Fery.

Tujuan hidup dari Fery Ariel Makarin bisa menjadi animator diluar negeri dan terkenal. Fery terinspirasi dari Faza Meong sutradara Si Juki, dimana Si Juki berawal dari komik yang dijadikan animasi. Salah satu yang menginspirasinya dari kalangan mahasiswa ialah Opa Lino dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Film animasi yang menginspirasinya untuk terus berkarya adalah ada Battle Of Surabaya, Si Juki The Movie dan karya Meraih Mimpi 3D.

“Dari kecil udah suka nonton film kartun semakin beranjak saya makin terkesima dan ingin membuat kartun dan dari SMA memulai gambar dan lulus SMA saya memutuskan kuliah di Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) Yogyakarta Prodi Animasi,” kata Fery.

Memasuki sesi 2 ada screaning film Rantai dengan durasi 06.12 menit di produksi pada tahun 2016 dengan pembuat karya yaitu Kotak Pensil Production. Karya ini menceritakan tentang seorang tokoh yang beranam Fitrah yaitu calon pemimpin dari sebuah negara yang menyogok agar dapat terpilih menjadi pemimpin, namun setelah terpilihnya dia sebagai pemimpin Fitrah terus menerus melakukan perbuatan curang seperti korupsi dan menyogok dan hingga pada suatu hari bawahannya yaitu Budi mengetahui hal tersebut dan melaporkan Fitrah kepada pihak berwajib, dan semenjak pelaporan itu Budi pun menggantikan Fitrah namun hal yang terjadi si Budi terjerat rantai yang sama denga Fitrah yaitu korupsi.

Karya dari film Rantai menceritakan bahwasannya masih banyak pemipim-pemimpin yang korupsi.

Dimana dia ingin membuat karya yang betul-betul sudah terjadi tentang seorang pemimpin yang korupsi dan menguras urang rakyatnya di mana koruspi tidak akan bisa berhenti kecuali dari kita sendiri yang memulai untuk berhenti.

Sesi selanjutnya karya dari Faizal Hanura dengan judul Si Anjing Kecil durasi waktu 05.00 menit tahun produksi 2018.

Karya Si Anjing Kecil bercerita saat Nana dan ayahnya pulang dari minimarket, Nana melihat anjing kecil yang lucu dan sendirian ini pun tak tega dan memberikan makanan ke anjing kecil tersebut, dan tak sadar ia pun terpisah di lorong yang sempit. Nana sang tokoh dari film Si Anjing dengan ayahnya. Saat dia mengejar ayahnya tanpa sadar terjadi sesuatu hal yang mengejutkan disaat itulah Nana tak henti-henti menangis dan memeluk sang ayah.

Sesi 2 di akhiri dengan screening Film Rangda, dibuat pada tahun 2017 dengan waktu durasi 06.01 menit dengan karyanya Produksi Manggala.

Tokoh utama yaitu Nara di mana dia seorang remaja yang tidak sengaja menemukan topeng misterius yang dapat mengendalikan diri penggunanya dan beruntung Nara tertolong oleh kakaknya.

Respon yang sangat positif mengalir dari pengunjung Animation Expo 2018. Salsa dan Intal Pelyani sangat tertarik di dunia animasi. Mereka berdua pun mengambil jurusan animasi yang mau tidak mau harus mempelajari animasi mulai dari pembuatannya dan sampai ke tahap rendering. Mereka berdua mendapatkan wawasan dari rangkaian acara di hari pertama. “Seru banget sih ada screening film terus karya dari orang banyak gitu jadi bikin kita itu ingin berkarya.” kata Salsa.

Intan Pelyani mengatakan, mendapatkan energi dan inspirasi setelah melihat secara langsung dimana karya-karya animator muda dihargai dan dilihat oleh banyak orang. Salsa dan Intan Pelyani juga mengaku bahwa sangat menyukai karya-karya animator Indonesia. Salah satu film animasi yang mereka berdua suka adalah Battle Of Surabaya.

Diakhir penutupan pada sesi screening ada narasumber yang sangat di tunggu-tunggu oleh animator-animator muda yaitu narasumber Iman Rahmadityo selaku Animation Asistant Supervisor Of Peter Rabbit dan Bella Yolanda selaku Public Relation dari Infinite Studios Batam.

Infinite Studios Batam adalah perusahaan hiburan dan jasa kreatif media yang terintegrasi berbasis di Singapura dan Indonesia (Batam). Didirikan pada tahun 1997 dan telah berevolusi dari menyediakan layanan kreatif seperti pasca-produksi, efek visual dan animasi untuk menciptakan konten asli sendiri utnuk industri media digital global.

Iman Rahmadityo bercerita tentang pengalaman yang pernah ia geluti di dalam dunia animasi. Infinite Studio Batam yang diwakili oleh Iman Rahmadityo berhasil membuka cakrawala para pengunjung AXPO di dunia animasi. Para pengunjung menjadi lebih tau bahwasanya proses membuat film animasi begitu panjang didalam sebuah dunia kerja. Bahkan ada sebagian mahasiswa-mahasiswi animasi  yang ingin melamar kerjaan dan magang di Infinite Studios Batam.

“Di situlah pihak dari Infinite Studios Batam berpikir lagi untuk menjadikan kota Jogja sebagai Next Road Show di tahun depan untuk melakukan open recuitment,” ungkap Bela Yolanda selaku Public Relation dari Infinte Studio Batam.

Banyak pesan yang dapat diambil dari sesi talkshow yang mana anak muda harus punya jiwa pemimpin untuk membuat suatu karya yang membuat perusahan-perusahan ingin menggunakan mereka dalam suatu project besar, dan membuat animator-animator muda di Indonesia makin maju kedepannya. “Belajar terus dan animator itu harus sering praktek, sering ngasah ilmu, dan harus sering ambil ilmu dari mana saja,” pesan dari Bela Yolanda buat animator-animator muda di Indonesia.

Berakhirnya talkshow dari Infinite Studio Batam maka berakhir juga rangkaian acara di hari pertama. Hari pertama penyelenggaraan di tutup dengan bahagia oleh setiap anggota panita Animation Expo. “Alhamdulillah puji syukur acara di hari ini berjalan dengan sesuai rencana mulai dari screening film, dan narasumbernya juga datang tepat waktu dan dari audiens pun sesuai dengan target kita, jadi secara keseluruhan untuk acara hari ini lancar sesuai target acara kita,” ucap Ilham Refianto Malik selaku ketua Pelaksana Animation Expo 2018.

Malik mengatakan, di hari pertama AXPO sesuai denga apa yang direncanakan dan semua panitia berjalan dengan tugasnya masing-masing.  “Jadi kalau saya melihat sebagai ketua pelaksananya melihat seluruh panitia dan semua suasanya hari ini itu saya senang banget karena kerja kita selama 4 bulan keamrin itu terbayarkan di hari ini dan semoga besok lancar juga,” kata Malik.

Sebelum Animation Expo Malik beserta teman-temannya dari semester satu, tiga dan lima prodi Animasi berkerjasama selama tiga bulan untuk produksi film animasi secara bersama yang berjudul TUAI yang disutradarai oleh Fransiska Rena yang baru menginjak semester tiga. Hari kedua akan menjadi hari perilisan trailer TUAI di Animation Expo 2018.

Yudho Mahdi selaku Ketua Himasi dan masuk dalam divisi acara mengucap alhamdulillah tanda rasa syukur atas semua target yang dirumuskan oleh panitia secara keseluruhan berjalan lancar, terkendali, aman, dan waktu yang yang ditargetkan oleh panitia tercapai semua.

“Maknanya hari ini kita itu tidak bisa berjalan sendirian, jadi kita membuat sesuatu event yang besar kita harus belajar bersama-sama untuk membangun itu, kalaupun sendirian kita ngak bisa untuk membangun event yang sebesar ini,” tutup Yudho Mahdi selaku ketua HIMASI STMM MMTC Yogyakarta.

Terlihat senyum bahagia dari pengunjung yang datang ke Animation Expo 2018 dan mereka sangat antusias dalam acara hari ini, di mana pengunjung di hari pertama berasal dari animator-animator antar kampus yang ada di Jogja.

Hari Kedua

Acara yang pertama hari kedua Animation Expo, 17 November 2018  di Animation Expo 2018 turut serta mengundang komunitas Komik Las K. Di dalam talkshow Luki Lukman Hakim dari Sekolah Multi Media (MMTC) Yogyakarta selaku ketua Komik Las K. bercerita tentang komik Las K, di mana komik Las K adalah sebuah wadah buat mahasiswa-mahasiswi yang ingin membuat komik yang di terdapat di kampus Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) Yogyakarta mulai dari genre romance, horror, komedi semua bisa di temukan di Las K.

Komunitas Komik Las K telah mengikuti Event di Mangafest 2018 di PKKH-UGM. Komik Las K sudah merilis 2 Genre yang berbeda yaitu Las K volume pertama bercerita tentang cinta dan yang volume ke 2 bercerita tentang Mitos Jogja.

“Terus Berkarya jangan takut untuk berakarya jika punya bakat harus di salurkan dan sayang kalau punya bakat tapi tidak disalurkan dan yang terakhir yaitu terus berkarya,” Luki Lukman Hakim dari Sekolah Multi Media (MMTC) Yogyakarta selaku ketua Komik Las K.

Acara yang kedua yaitu pemutaran trailer dengan judul “Salah Siapa” dengan durasi penayangan 05.22 menit.

Di produksi pada tahun 2017 dan dibuat oleh Mahdi Muhammad dari Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) Yogyakarta. Karya ini menceritakan seorang mahasiswa yang bernama Boy tidak mengikuti ujian semester karena telat bangun, hal yang membuatnya telat bangun di karenakan malamnya si Boy bermain game, si tokoh utama sempat terbangun dan melakukan persiapan, hingga melaksanakan ujian tapi semua itu hanya mimpi saja.

Karya yang selanjutnya di screening yaitu dengan judul “Delucid” dengan durasi 03.22 menit dan di pruduksi pada tahun 2018 yang dibuat oleh Anastasya Luthfi Lestari dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, di mana film ini menceritakan tentang seorang penulis yang ingin memberi kejutan kepada kekasihnya. Namun di tengah jalan cerita, tiba-tiba ia megalami kejadian aneh yang membuatnya bertanya-tanya.

“Pesan buat animator-animator muda di Indonesia terus berkarya dan mengikuti berbagai event, dari pada karyanya diam aja mending di show of,” ungkap Anastasya Lutfi Lestari dari Istitut Seni (ISI) Yogyakarta.

Karya selanjutnya yaitu dari RDTY Animation dengan judul “Leuweung” dengan waktu durasi 03.19 menit di produksi pada tahun 2018.

Menceritakan tentang tokoh yang bernama Moura yang sedang bermain petak umpet dengan tokoh lainnya yaitu Akson, tiba-tiba datanglah makhluk lucu yang menuntunnya untuk masuk kedalam hutan terlarang.

Adapun karya selanjutnya dari Arnold dengan judul “Imaginary Night” dengan waktu durasi 10.56 menit di produksi pada tahun 2018.

Karya Arnold yang membuat animasi Imaginary Night ini bercerita tentang pada suatu malam karakter Imaginer milik Mike, Mike sendiri adalah tokoh dari film ini di mana Mike  keluar dari kertas untuk saling berinteraksi dan diantara karakter-karakter tersebut tokoh yang selanjutnya ada Willy dan para crew badutnya. Mereka menemukan pensil ajaib untuk melakukan atraksi panggungnya.

Selanjutnya ada karya dari Romario Manggala dengan karya “Rangda II” dengan waktu durasi 07.37 menit di produksi pada tahun 2018.

Di film ini ada seorang tokoh yang bernama Elfa seorang gadis yang berusaha mencari ingatan tentang kehidupan masa lalunya yang akhirnya mempertemukan dia dengan iblis “Rangda”.

“Perilisan Trailer Film” menjadi tujuan utama dari acara AXPO 2018, yang akan memamerkan hasil karya dari mahasiswa animasi semester 1,3 dan 5 Sekolah Tinggi Mult Media “MMTC” Yogyakarta. Trailer film animasi 2 dimensi dengan durasi 2 menit dan berjudul “TUAI” ini menjadi pembukaan untuk film yang akan dirilis tahun depan dan di sutradai oleh Fransisca Rena. Film animasi “TUAI” terinspirasi dari kisah hidup dari sang sutradara.

Fransisca Rena sebagai sutradara, memaknai dari trailer TUAI sendiri yaitu apa yang kalian tanam itulah yang akan kalian TUAI.

“TUAI awalnya dari lingkungan, lingkungan kita ini kan krisis soal alamnya dan sebagainya, dan kisah ini terinpirasi dari hidup saya sendiri, nanti ada scene yang menunjukkan bahwa karekter ini adalah peri buah dan buahnya dia ini itu bisa menjadi obat yang dulu juga pernah menyelamatkan saya sama keluarga-keluarga saya yang lainnya,” ungkap Rena.

Kedepannya Rena ingin membuat flm-film animasi yang ada pesan moralnya dan secepatnya menyelesaikan film TUAI dan di Animation Expo 2018 ini Rena berserta seluruh tim semakin percaya diri untuk menyelesaikan film animasi TUAI. 2019 menjadi tahun di putar dibioskop.

Acara terakhir Animation Expo talkshow bersama Aryanto Yuniawan selaku Chief Executive Officer Of MSV Studio. MSV Picture adalah nama merek PT.Surya Mataram Visi (MSV) merupakan studio animasi yang berdiri pada tahun 2002 dan bertempat di Yogyakarta. MSV Picture salah satu perusahaan produksi animasi terbesar di Indonesia, selain memproduksi film panjang, animasi anak dan keluarga, MSV Picture juga memproduksi serial TV. Banyak sudah karya yang telah di buat dan juga banyak mendapatkan penghargaan diantaranya Battle Of Surabaya, Petualangan Abdan dan masih banyak lagi lainnya.

Di mana karya Battle Of Surabaya sudah di akui di dunia international yang mendapatkan penghargaan di Amsterdam dalam kategori “Best Animation Or Animated Sequence” pada Amterdam International Filmmaker Festival, ada juga Hollywood International Moving Picture Film Festival 2018 dan sudah banyak penghargaan yang telah diraih Battle Of Surabaya.

Sebelum memasuki acara talk show nya penonton di Animation Expo 2018 menonton film Battle Of Surabaya setelah acara filmnya selesai di putar dilanjutkan lah  Talk Show bersama Aryanto Yuniawan selaku Chief Executive Officer Of MSV Studio.

Battle Of Surabaya mengisahkan pengalaman Musa seorang penyemir sepatu berusia 13 tahun yang berkenalan dengan Yumna yang usianya 15 tahun dan berasal dari jepang, dan tokoh si Danu yang remaja. Yang di mana tokoh musa sebagai penyemir sepatu sekaligus tukang pos, rela membela negara Indonesia. Rela mati-matian agar surat yang dititipkan di dia tidak jatuh ketangan musuh. Rela mengorbankan nyawanya sendiri demi membela tanar air yang di cintainya.

Aryanto Yuniawan mengungkapkan, keterkejutannya ketika memasuki audit karena ada beberapa poster karya-karya animasi di pajang di Animation Expo dan ada beberapa karya yang menurutnya menarik. Dia juga berharap AnimationExpo tetap dilanjutkan di tahun mendatang dan dengan cakupan yang lebih besar dalam arti lebih berskala nasional lagi.

“Buat animator-animator muda di Indonesia, kalian harus membuka mata, membuka pikiran dan membuka wawasan dan buatlah local Indonesia menjadi kemasan-kemasan global sehingga bisa di nikmati oleh masyarakat dunia,“ kata Aryanto Yuniawan selaku Chief Executive Officer Of MSV Studio.

Sesi terakhir dari semua rangkaian acara selama dua hari penyelenggaraan Animation Expo tahun keempat adalah pengumuman peraih Best Animation, Best Visual, dan Best Story dalam tajuk acara “Festival Film Animasi”. Peraih Best Animation jatuh kepada karya “Imaginary Night”, Best Visual diraih oleh “Rangda”, dan yang terakhir “Rantai” membawa Best Story. Terlihat wajah yang sangat senang dari pemenang Animation EXPO 2018 karya yang mereka buat ternyata di respon baik oleh para pengunjung yang datang ke acara tersebut.

Film animasi Rangda II menjadi. Romario Manggala mahasiswa Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) Yogyakarta peraih Best Visual Animation Expo 2018 mengatakan, Animation Expo di tahun ini lebih meriah, lebih merata, dan dari secara keseluruhan lebih bagus.

“Pesan-pesan buat animator-animator muda di Indonesia terus berkarya dan terus asa diri kalian didunia animasi,” seru Romario Manggala.

Perjuangan seluruh panitia sejak jauh-jauh hari akhirnya terbayar dengan rasa puas. Di mulai dari konsep baru yang di usung Panitia Animation Expo 2018. Narasumber-narasumber dari dunia animasi yang sudah terkenal baik di Indonesia mapun luar negeri yang memberikan inspirasi bagi para mahasiswa-mahasiswi animasi baik MMTC maupun dari kampus lain yang ikut berpartisipasi dalam rangkaian acara Animation Expo.

“Harapanya saya ada 2 harapan yang paling penting di animation di #4 dan semoga ada #4 dimana di #4 kita bisa rilis film-Film animasi dengan durasi panjang, karna di tahun ini kita sudah memasarkan filmnya (TUAI). Harapan ke 2 yaitu lebih banyaknya pengunjung di Aniamtion di #4, di mana di tahun ini publikasi kan masih kurang karna ini masih konsep pertama di #3 yang seperti ini, semoga di #4 lebih banyak lagi yang hadir,” kata Ilham Refianto Malik selaku ketua Pelaksana Animation Expo 2018

Berakhirnya Animation Expo 2018 maka berakhir juga tugas Yudho Mahdi ketua HIMASI STMM MMTC Yogyakarta. Penyerahan jabatan ketua baru di tepat pada akhir acara Animation Expo sebagai proker terakhir Yudho jajarannya. “Alhamdulilah berarti tugas saya sudah selesai sampai disini, alhamdulillah juga tugas-tugas saya dan teman-teman dari HIMASI sudah saya selesaikan semua pada hari ini dan penutupan juga secara sah kami selesaikan pada hari ini juga,” ucap Yudha.

“Harapannya sih Animation Expo #4 semoga lebih besar dari hari ini dan bisa keluar dari Auditorium (MMTC) jadi lebih luas lagi jangkauannya, dan semoga yang datang diluar dari Jogja juga semoga bisa semakin banyak lebih ke skala nasional lagi, dan harapan saya semoga AXPO lebih terkenal dari pada sekarang,” terang Yudho.

Kita doakan melalui Animation Expo ini akan muncul animator-animator muda, agar kedepannya membuat karya film animasi dengan kearifan Lokal Indonesia, sehingga dapat  bersuara di kancah tingkat nasional dan bahkan dunia. Teruslah berkarya para animator-animator muda…

Penulis:  Edi Sutrisno

Editor:  *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan