Aksi Pelajar Tolak RUU PKS di DPRD Solo Surakarta

SURAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – 26 September 2019. Pagi itu sekitar jam 9 tiba-tiba saja teman saya mengirim sebuah gambar ke saya melalui aplikasi whatsapp. “Hey, deloken iki!” begitu katanya, tidak biasa teman saya ini mengirim gambar ke saya, saya pun dengan penasaran membaca tulisan digambar tersebut dengan pelan, dan saya terdiam sejenak setelah membaca itu, kira-kira seperti ini isinya:

‘Seruan Aksi Tolak RUU PKS

            Garda Pembela Pancasila

            26 Agustus 2019

            Di DPRD Surakarta’

“Wah, hari ini dong berarti?” batin saya.

Saya pun merasa heran dan penasaran, jika biasanya aksi di hari-hari ini selalu menuntut pengesahan RUU PKS (Penghapusan Kekerasan Seksual), maka undangan aksi yang saya terima kali ini adalah sebaliknya. Sekedar informasi, RUU PKS ini lahir karena kasus kekerasan seksual pada perempuan makin meningkat tiap tahunnya, juga karena banyak kasus kekerasan seksual yang tidak tertangani dengan baik karena tidak ada payung hukum yang melindungi korban, karena itulah RUU PKS dicetuskan dengan tujuan untuk mencegah, menangani, melindungi, dan memulihkan korban kekerasan seksual.

Nah, itu kan pendapat yang paling sering saya dengar di aksi-aksi penuntutan pengesahan RUU PKS. Bagaimana dengan aksi ini ? Apa yang membuat mereka menolak disahkan-nya RUU ini? Dan apa yang membuat mereka begitu yakin untuk menolak RUU ini? Berbagai macam pertanyaan berkeliaran dalam pikiran saya, dan justru itu membuat saya makin tertarik dan penasaran untuk mengikuti aksi tersebut, tapi bukan sebagai peserta, sebenarnya tujuan utama saya mengikuti aksi ini adalah untuk mendapat wawasan yang baru supaya bisa melihat suatu kasus dalam dua sisi yang berbeda. Akhirnya saya fix memutuskan untuk berangkat karena didorong oleh rasa penasaran saya.

Saya berangkat menggunakan sepeda motor, saya kira akan terjadi kemacetan karena aksi tersebut, dan untung saja tidak. Sesampai di DPRD Surakarta pada pukul 13.30, acara ternyata belum dimulai, suhu udara saat itu sangat panas, saya masih ingat temperatur pada smartphone waktu itu menunjukkan angka 37 derajat Celcius, dan pihak panitia masih mempersiapkan dan menata barisan para peserta. Terlihat banyak bendera KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dikibarkan oleh peserta disekitar lokasi. KAMMI sendiri adalah sebuah organisasi mahasiswa muslim yang lahir di era reformasi, selain KAMMI, aksi ini juga diikuti oleh Aliansi Garda Pembela Pancasila.

Acara benar-benar baru dimulai pada pukul 13.39 siang, barisan sudah tertata rapi dengan barisan laki-laki didepan dan barisan perempuan dibelakang, para peserta membaca basmallah serta membacakan doa sebelum memulai aksi, dan hal ini membuat saya sampai terkejut menggumam ‘Subhanallah’ karena tidak biasanya saya mengikuti sebuah aksi yang dimulai dengan membaca doa.

Setelah pembacaan doa, aksi dimulai dengan menyanyikan mars mahasiswa dan mars KAMMI. Peserta pun juga mulai memegang posternya masing-masing, kebanyakan bertuliskan ‘RUU PKS Bukan Solusi !’ , ‘Kami Menolak Kekerasan Seksual tapi RUU PKS Bukan Solusi!’, ‘Ganyang Liberalisme’ dan beberapa poster mengarah pada homofobia, bahkan ada yang menuliskan RUU ini pro-zina, pro-LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) dan lain-lain, sebenarnya terdapat banyak tulisan poster lain tapi inti-nya tetap mengarah pada tujuan yang sama: Tolak RUU PKS.

Kemudian acara dilanjutkan dengan orasi, menyebutkan berbagai macam alasan mengapa mereka menolak RUU ini, salah satu yang paling sering mereka sebut sebagai masalah dari RUU terdapat pada pasal 11 yang berbunyi :

Pasal 11

(1) Setiap orang dilarang melakukan Kekerasan Seksual

(2) Kekerasan seksual sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari:

  1. Pelecehan seksual;
  2. Eksploitasi seksual;
  3. Pemaksaan kontrasepsi;
  4. Pemaksaan aborsi;
  5. Perkosaan;
  6. Pemaksaan perkawinan;
  7. Pemaksaan pelacuran;
  8. Perbudakan seksual; dan/atau
  9. Penyiksaan seksual

Mereka mengritik RUU ini karena dianggap hanya melarang kekerasan seksual yang bersifat memaksa, bagaimana dengan yang tidak dipaksa? Apakah berarti itu boleh dilakukan? Apakah pelacuran yang tidak dipaksakan berarti boleh-boleh saja? Itulah alasan mengapa mereka menolak RUU ini selain dianggap tidak sesuai dengan adat ketimuran, mereka menganggap bahwa RUU ini sangat pro dengan zina.

Beberapa peserta juga membawa poster yang bertuliskan tolak LGBT, dalam salah satu orasi nya juga disebut bahwa LGBT menghina peradaban manusia. Sebenarnya saya masih mencari relevansi antara permasalahan RUU ini dengan LGBT karena saya tidak menemukan penyebutan kata LGBT dalam RUU tersebut. Akan tetapi mereka menyebutkan bahwa RUU ini bisa membuka pintu bagi LGBT, feminisme, dan liberalisme semakin berkembang di Indonesia sehingga dapat merusak generasi muda. Mengabaikan nilai-nilai dalam Pancasila, ketahanan keluarga, agama, dan moralitas Indonesia

Ditengah-tengah aksi tersebut mendadak terdapat satu mobil pick up berhenti didepan gedung DPRD Surakarta yang berisi penuh sekelompok anak laki-laki yang menggunakan seragam putih abu-abu, beberapa juga mengenakan seragam pramuka, yang mengenakan seragam pramuka terlihat masih SMP.

Mobil itu berhenti tepat didepan gedung DPRD dan mereka turun sambil berteriak-teriak ‘Ndi DPR e?’ (Mana anggota DPR nya?). Ya, mereka mengatakan DPR, anda tidak salah membaca. Peserta laki-laki aksi tolak RUU PKS pun dengan sigap membentuk lingkaran besar dan saling bergandengan untuk melindungi peserta lain, terutama yang perempuan karena mengira akan terjadi kerusuhan.

Sekelompok siswa itu mengibarkan bendera merah putih, membawa poster sambil terus berteriak-teriak menghujat DPR, suasana pun jadi menegangkan dan membingungkan. Menegangkan untuk peserta aksi tolak RUU PKS itu, mereka menganggap sekelompok siswa itu adalah penyusup yang sewaktu-waktu bisa membuat kerusuhan. Juga membingungkan, karena tidak ada yang tahu darimana mereka berasal karena tidak terlihat seperti siswa SMA/SMK asal Solo. Wartawan pun dengan sigap langsung meninggalkan meliput aksi itu dan beralih meliput sekelompok siswa itu.

Mereka juga membawa poster yang terbuat dari sobekan buku tulis sekolah mereka, tapi sebenarnya saya tidak tahu apa yang mereka suarakan, tulisannya juga penuh kalimat kasar, entah apa yang mereka suarakan? RUU PKS? RUU Minerba? RUU Pertanahan?

Saya tidak tahu. Karena mereka tidak bisa berhenti berteriak-teriak, akhirnya salah satu dari polisi marah dan mengusir mereka sambil berteriak-teriak juga, mereka pun terlihat ketakutan dan langsung pergi meninggalkan lokasi.

Orasi pun dimulai lagi, kali ini peserta aksi meminta supaya mereka diizinkan untuk masuk ke dalam gedung DPRD, minimal halamanya saja-lah, supaya mereka dapat menyampaikan aspirasi secara langsung pada anggota Dewan, tidak ada kejadian yang menegangkan lagi, acara dilanjutkan dengan orasi dan pembacaan puisi tanpa gangguan, mereka pun diizinkan masuk ke area gedung DPRD. Acara pun selesai pada pukul sekitar setengah 4 sore, massa membubarkan diri dengan tertib, tanpa anarkistis.

Penulis: Fitria Novitasari

Editor: *R.V.N*

Tinggalkan Balasan