WARA Creative Studio

MATAMEDIA- RI.com – Di era globalisasi masa kini jiwa pemuda akan bisnis di dunia kreatif tumbuh makin pesat ibarat kembang api yang meluncur dan menyala pecah ke segala arah. Disamping karena memiliki peluang pasar yang besar, proses kreatif itu sendiri merupakan sebuah passion yang dapat ditekuni sesuai panggilan hati. Untuk itu tidak mengherankan jika semakin merebaknya pilihan dunia kreatif sebagai profesi, khususnya kawula muda, karena dapat menekuni pekerjaan ini dengan senang hati.

Seperti yang kita tahu, kebutuhan akan hal yang berbau kreatif di masa modern ini semakin tinggi. Namun hal tersebut dapat terpenuhi dengan banyaknya kawula muda yang memiliki passion dibidang ini.  Meski hanya belajar secara autodidak, dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat mudah diakses, mereka mampu memanfaatkannya untuk mengasah skill, mencari inspirasi hingga menemukan berbagai ide brilian dan mampu mengolahnya menjadi karya yang menjual,  khususnya industri kreatif yang bergerak dalam ranah digital.

Namun pertanyaannya,  mengapa dunia kreatif di Indonesia terglong sulit untuk maju dan berkembang? Mengapa karya seni Di Indonesia dihargai dengan nilai yang tidak sepadan? Mengapa proses kreatif di Indonesia tidak mampu mengahsilkan banyak seniman yang termashsyur layaknya selebritis seperti halnya di negara maju, padahal jika dilihat dari karyanya, buatan Indonesia tidak kalah saing di kancah Internasional? Mengapa profesi dalam dunia kreatif di Indonesia masih dipandang sebelah mata?

Kendala-kendala inilah yang membuat para kreator berbakat sebenarnya masih bingung, karya-karya mereka ini mau dibawa kemana? Ditambah pandangan sebelah mata masyarakat pada umumnya mengenai profesi ini, semakin menciutkan nyali mereka untuk menampakkan karyanya muncul ke permukaan. Namun demikian, melewati segala rintangan yang seolah mengepung dan mendesak ini, tak sedikit para kreator muda berani mencoba menampakkan diri, dibanding memilih peluang menjadi pegawai dan profesi lain yang tampak menjajikan, mereka memulainya dari nol.

Berawal dengan membentuk perkumpulan kreator, merencanakan project hingga mendirikan studio kreatif, mereka mulai menjalankan bisnis ini. Tentu  bukanlah perkara  yang mudah dan murah. Rintangan dan halangan tak pelik menghadang. Banyak yang memulai namun tak sedikit pula yang tumbang. Untuk lebih tahu mendalam tentang bagaimana jatuh bangunnya sebuah industri kreatif digital dalam perjalanan karirnya, bagaimana perannya untuk masyarakat dan bagaimana tanggapan masyarakat mengenai dunia kreatif ini sendiri, Mata Media kali ini memilih WARA Creative Studio untuk dikenal lebih dekat.

WARA merupakan salah satu studio kreatif di Yogyakarta yang bergerak dibidang desain digital, misalnya mengolah video company profile, CD interaktif, periklanan (televisi dan radio), motion graphic / visual background, animasi 2D dan animasi 3D.

Tergolong studio yang masih berumur belia, WARA sudah berjuang selama empat tahun sejak studio ini didirikan. Namun demikian baru diresmikan pada tahun 2015. Hingga sekarang, WARA yang memiliki tiga pilar utama ini diketuai oleh Andi Sammuara sebagai Direktur,  Irawan Saptowibowo sebagai Chief Divisi Animasi dan  Fabian Aurora sebagai Chief Divisi Desain. Kemudian tidak lama setelah itu, Bp. Sigit Nur mulai bergabung menjadi anggota utama sebagai Chief Audio Visual. Sebuah perusahaan tentu tidak dapat berjalan lancar tanpa adanya pihak pemasaran, maka dari itu bergabung pula  Sigit Tri yang bertugas di bagian marketing. Selain Anggota utama tersebut, tergabung pula outsourcer Yusuf yang membantu menggarap project-project WARA.

Para founder WARA memilih nama ini karena WARA memiliki arti yang simple, mudah dihafal namun kandungan maknanya yang kharismatik, yaitu utama ( bahkan tuturan kata lebih dari emas / perak dalam bahasa Jawa Kuno.) Selain itu, kata WARA juga bearti harapan. Dengan demikian, WARA berharap bahwa karya-karya yang diciptakan menjadi sebuah identitas diri, berkarakter, menjadi pembeda daripada karya yang lain dan dapat mandiri untuk menciptakan karya-karya original.

Prinsip WARA dalam menghasilkan karya untuk para kliennya ialah menerapkan trend desain grafis (bisa pula memasukkan desain kontemporer) dan berpedoman pada tuntutan pasar. Skala market untuk klien WARA sendiri berskala nasional. Klien yang pernah memberikan commission dari berbagai daerah di Indonesia dan beragam kalangan, mulai dari desain pamphlet untuk pengusaha mie ayam bahkan hingga pembuatan video profil perusahaan  multi nasional yang biasanya tersaji dalam bentuk animasi motion graphic,  contoh profil Rumah Sakit, Dinas PU, PPKD dan sebagainya. Selain itu, contoh karya yang pernah WARA hasilkan diantaranya ilustrasi untuk buku, photobook, foto wedding, banner, animasi 2D, kemasan produk minuman, makanan dan  masih banyak lagi.

Terjalinnya kerjasama dengan PPKD merupakan sebuah prestasi bagi WARA. Kesadaran klien akan betapa berharganya sebuah hasil karya adalah hal yang membanggakan, karena dengan demikian klien dapat mendukung dan memberikan nilai positif yang sesuai dengan hasil karyanya. Untuk pemesanan desain pada WARA bisa menghuabungi WARA langsung dengan CP Mobile/WA: +62 81328290607 atau melalui E-mail : waracreativestudio@yahoo.com, Submisi di Website, atau bisa juga datang langsung ke Studio WARA di Jalan Cepit Tembi, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55185, Indonesia.

WARA yang sejauh ini hanya menghasilkan karya atas dasar pemesanan dari klien, memiliki cita-cita untuk dapat menciptakan original content berupa film yang dikemas dalam bentuk animasi. Demi tercapainya target-target yang tinggi itulah WARA berusaha  tetap mempertahankan prinsip perusahaan dan terus mengembangkannya. Setiap perjalanan untuk mencapai titik tertentu pastilah tidak hanya diwarnai dengan suka cita saja, namun juga terkadang kendala datang tak terduga. Tim WARA sering kali closed commission dikarenakan penuhnya pemesanan dan kekurangan tenaga ahli.  WARA juga sering sekali menghadapi klien yang tidak paham akan desain visual proses kreatif.

“Terus terang kami sangat sedih jika menghasilkan karya yang tidak bagus,” tutur  Irawan yang akrab disapa Mas Mek. Tidak hanya itu, masyarakat acap kali menganggap sebuah karya dengan penilaian yang remeh. Mereka cenderung berfikir bahawa gambar, ya tinggal gambar. Semudah itu. Padahal sebuah konsep desain itu membutuhkan proses kreatif yang datangnya tentu tidak jeng jeng seperti sambaran petir, menggelegar kilat dari langit ke permukaan. Semua butuh proses.

Sebenarnya WARA sendiri mengharapkan adanya tenaga baru untuk membantu menerima comission, agar tidak mengecewakan klien yang akan memesan. Namun sejauh ini, para pendiri WARA belum menemukan tenaga baru yang sesuai. Hal tersebut tidak dikarenakan  standar yang ditetapkan oleh studio WARA,  melainkan layaknya seleksi alam. Dengan kata lain, anggota baru itulah yang berguguran.Tidak harus melalui prosedur yang resmi, anggota WARA sendiri sangat hangat dan wellcome sekali dalam menerima siapapun yang ingin mencoba bergabung, tidak memandang status pendidikan atau nilai akademik bahkan skill sekalipun.

“Ibaratnya anggota baru ini misalnya, gambar bulet aja ngga sempurna, jelek gitu lah ya. Tapi jika dia memiliki potensi, punya semangat, kita wellcome banget. Kita disini belajar bersama, Bekerja bersama,” papar Irawan yang menggemari studio .

“Yang kita utamakan juga hubungan yang baik. Ciptakan cemistry yang hangat, yang akrab,” Pak Sigit juga ikut menambahkan. Karena bagi WARA menambah teman merupakan hal yang menyenangkan dan sangat berharga, dapat menambah wawasan baru, menimbulkan ide-ide baru, menambah jejaring. Daripada status yang disandang seseorang, pertama-tama  WARA lebih mengedepankan karakter/ kepribadian yang baik. Yang kedua adalah pengorbanan. Untuk menjadi bagian dari WARA, apakah anggota baru ini mau berkorban demi menumbuh-kembangkan rumah studio WARA ini.

“Sebenarnya, diluar sana masih banyak para kreator yang memiliki skill luar biasa. Namun kurangnya daya dukung masyarakat karena minimnya kesadaran terhadap pentingnya kreativitas, tentang pekerjaan ini,  membuat para kreator hebat itu tenggelam dan tidak nampak keberadaannya. Secara kan dalam kehidupan kita, prinsip kreativitas itu melekat di setiap masyarakat. Mulai dari desain pakaian yang dikenakan, desain motor, desain alat rumah tangga, semuanya. Padahal kita hidup berdampingan setiap saat dengan yang namanya hasil kreativitas. Namun masyarakat sendiri kurang menyadari bahwa konsep desain itu sangat penting,” begitu penjelasan  Rora dan  Irawan.

WARA studio berharap untuk para kreator desain atau apapun yang masih tersembunyi supaya mejalin link atau jaringan,  membentuk kelompok yang satu prinsip dan sejalan dan mulalilah berkarya.Semoga kesadaran masyarakat mengenai konsep desain meningkat sehingga proses kreatif ini mendapat dukungan penuh, para kreator dapat terus berkarya dan bahkan dapat membawa karya-karya mereka bersaing di kancah Internasional. Dengan begitu, kesejahteraan kreatorpun terjamin dan kecerdasan bangsapun juga meningkat.

Penulis: Latifah Nur Hidayati

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan