Tersenyum Lagi

CERPEN ,MATAMEDIA-RI.com

Kembali lagi hari berlalu, waktu terus berlari meninggalkan seorang Ervan yang terus termenung dalam diamnya. Menatap jauh dalam pandangan yang kosong. Setelah ia mengetahui semuanya, setelah ia mengetahui bagaimana dia akan berakhir, dia tidak dapat melakukan apapun. Perkataan itu terus berputar di dalam pikirannya. Ia tak lagi memikirkan dirinya, namun hanya satu hal yang membuatnya ragu untuk pergi. kakaknya, keluarganya satu-satunya yang selalu menemaninya setelah orang tua mereka berjalan jauh menuju keabadian meninggalkan mereka sendiri menghadapi manis pahitnya dunia.

Lagi dan lagi hanya kakaknya yang membebaninya untuk pergi. Hanya bagaimana dia bisa hidup sendiri tanpa dirinya. Walau dia yakin bahwa Nara, kakaknya akan baik-baik saja, tetapi dia ragu bagaimana kakaknya dapat berbagi cerita, berbagi duka dan bahagia jika bukan bersamanya. Vonis yang dijatuhkan padanya membuatnya takut menghadapi senyum kakaknya yang terlihat selalu berusaha tegar. Hanya bagaimana dapat membuat kakaknya tidak merasakan luka yang sama seperti 3 tahun lalu, ketika seorag pemuda yang ia sayangi dengan penuh keterpaksaan harus meninggalkannya. Ia tahu jika luka itu belum hilang dari lubuk hatinya walau dia terlihat selalu tegar dan baik-baik saja, namun Ervan tahu jika semua itu palsu.

Pagi itu, Ervan datang berusaha untuk menghilangkan air mata yang terus menerus mengalir di kedua pipinya yang mulai mengurus. Namun setelah ia datangpun tidak ada yang berubah darinya, dia hanya bisa menangis dan terus menangis dalam kesendirian. Ervan yakin Nara sudah mendengar berita itu, berita jika keadaan Ervan memburuk. Dengan keadaan Ervan yang saat ini, ia yakin ia tidak akan memiliki kesempatan untuk dapat mengucapkan selamat tinggal kepada kakaknya.

Beberapa hari belakangan, Ervan selalu datang, melihat bagaimana kakaknya yang ceria berubah bagai mayat hidup, dia semakin yakin jika selain dirinya tidak ada lagi siapapun dalam hidup Nara. Dan hal itulah yang membuatnya harus tetap tinggal. Dia berharap dapat kembali berlari dan menenggelamkan dirinya dalam pelukan hangat Nara. Walau hanya sekali sebelum ia pergi meninggalkannya untuk selamanya, pergi untuk menunggunya menyusul kedua orang tua mereka. Ketika itu, dia tengah bersama kakaknya di kafe tempatnya bekerja. Kafe kecil milik kedua orang tuanya, yang dibangun oleh ayah mereka, yang menjadi tempat bagi mereka dulu menghabiskan waktu.

Seorang pemuda berjalan masuk dan tanpa ragu memesan sebuah kopi kemudian duduk di bangku yang biasa dipakai oleh Ervan ketika Nara dan Ervan tengah berada di sana. Bangku yang berada di pojok dan jauh dari keramaian kafe, bangku yang cukup jarang diduduki karena tempatnya yang kurang strategis karena dekat dengan dapur sehingga ketika sedang duduk di sana, kita dapat mencium bau masakan dan suara orang tengah memasak yang cukup menganggu. Pemuda itu kemudian melepaskan kacamatanya dan mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya. Buku yang sama seperti buku kesukaan Ervan, sebuah komik series yang baginya kekanak-kanakan. Tak lama setelahnya, Nara datang sembari memberikan pesanan pemuda itu.

“Ahh, maaf, bisakah aku memintamu menghilangkan kejunya? Aku tidak begitu menyukainya,” kata pemuda itu sopan.

Setelah malam itu, pemuda tersebut datang lagi dan lagi, di waktu yang sama, duduk di tempat yang sama, membaca buku yang sama, dan memesan makanan yang sama.     Sudah lebih dari seminggu pemuda itu melakukan hal yang sama di kafe itu. malam itu, entah mendapatkan dorongan darimana, Nara mendekatinya dan mulai menanyakan beberapa hal dengan pemuda itu pasalnya Nara selalu merasa pemuda itu memiliki tatapan yang aneh kepadanya.

“Permisi, apakah aku mengganggumu?” tanya Nara.

“Iya, silahkan saja,” katanya sembari mempersilahkan Nara untuk duduk.

“Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan pada anda,”

“Tentang apa?”

“Eum, aku tahu kau selalu datang kemari sejak beberapa hari yang lalu, dan setiap kali kau akan pergi kau sering menanyakan siapa yang berdiri di belakangku, apakah kau melihat sesuatu?” tanya Nara hati-hati.

“Ahh, pemuda yang selalu berdiri di belakangmu itu?”jawabnya yang sukses membuat Ervan terhenyak dari diamnya ketika melihat jari pemuda itu terarah kepadanya.

“Tunggu, tidak ada siapapun di belakangku,” kata Nara mulai takut.

“Ada seorang pemuda yang berwajah mirip denganmu sedang berdiri di belakangmu saat ini,” katanya lagi.

“Tidak, kau pasti salah melihat,”

“Ahh, maaf, pasti karena aku kelelahan, tapi aku selalu dapat melihatnya di sini,”

“Bisakah aku menanyakan bagaimana dirinya?”

“Dia berdiri dengan jaket merah seperti yang tergantung di sana,” kata laki-laki itu menunjuk jaket Nara yang tergantung di dekat pintu dapur, “Dia sangat mirip denganmu, seorang pemuda yang menurutku cukup tampan, dia terus menatapmu jika kau sedang bekerja,” lanjut pemuda itu.

“Kau bisa melihatku? Jangan katakan lebih lagi tentang diriku, kumohon. Aku tidak beniat jahat padanya tolong katakan itu,” pinta Ervan.

“Ah maaf, dia memintaku untuk tidak mengatakan lebih, tapi dia tidak berniat jahat padamu, sungguh,” kata pemuda itu lagi.

“Sebenarnya, kau mengingatkanku pada seseorang,” kata Nara.

“Siapa?”

Nara kemudian tersadar, lalu bangkit dari duduknya dan meninggalkan pemuda itu. Pemuda itu kemudian menahan langkah Nara, “Namaku Kevin, kau bisa menanyakan apapun padaku jika kau mau,” kata pemuda yang akhirnya diketahui namanya sebagai Kevin itu.

Hari itu Kevin dipindah tugaskan di rumah sakit tempat Ervan dirawat. Ia kemudian menjadi dokter yang bertanggung jawab atas Ervan karena dokter sebelumnya mengundurkan diri dari rumah sakit itu. Kevin yang melihat Ervan tersadar jika yang selama ini dia lihat di kafe itu adalah pasien yang kini tengah tertidur di hadapannya. Dan di samping pasien itu, duduklah Ervan menatap tubuhnya yang terlihat tak berdaya.

“Sekarang kau sudah tahu siapa aku, jadi jangan beritahu kakakku,” kata Ervan.

“Tai bagaimana?”

“Sejak tubuhku kehilangan dayanya, setelah tubuhku dipindahkan kemari, aku kehilangan segalanya, bejalan tanpa arah hingga akhirnya aku melihat kakak yang menangis di tempatku ditemukan setahun lalu,” kata Ervan.

Malam harinya, Kevin datang lagi di kafe tempat Nara bekerja, tapi tidak untuk makan, tetapi untuk mengajak Nara pergi ke suatu tempat. Mereka kemudian berhenti di sebuah taman dekat sana kemudian duduk di sebuah bangkunya dan mulai mengobrol banyak hal. Nara yang awalnya merasa malu lambat laun dapat merasa nyaman.

“Nara, apakah kau tidak lelah bekerja disana? Bukankah jika malam sudah larut akan jarang ada pelanggan yang datang?” tanya Kevin.

“Lelahpun harus terus kujalani,”

“Apakah kau tidak memiliki saudara?”

“Aku memiliki seorang adik, dia mirip denganmu, selalu menemaniku, duduk dekat dengan dapur dengan alasan akan dapat melihatku yang sibuk di dapur, tenggelam dalam komik yang sama dengan yang kau baca, dan makan dengan menu yang sama sepertimu, menyukai spagetti tetapi tidak dengan kejunya,” kata Nara yang bercerita banyak hal tentang Ervan.

“Siapa nama adikmu?” tanya Kevin.

“Ervan,” kata Nara sembari meneteskan air matanya.

“Kau menyayanginya?”

“Tentu, hal itu tidak akan berubah walaupun dia pergi,” kata Nara tersenyum.

“Cukup, jangan buat kakakku menangis,” kata Ervan yang ada di belakang mereka.

Nara yang tengah termenung kemudian dapat dengan samar mendengar suara adiknya yang berteriak. Nara kemudian tersentak dan melihat sekelilingnya yang sepi.

“Ervan?” panggilnya karena dia yakin telah mendengar suara adiknya.

“Kak , kau mendengarku?” tanya Ervan kemudian.

Tiba-tiba, Kevin menerima telfon yang berkaitan dengan keadaan Ervan di rumah sakit. Mereka berdua kemudian berlari menuju ke rumah sakit. Di sana ia melihat Ervan tengah membuka matanya menunggu seseorang membuka pintu ruangan tempat Ervan dirawat. Dia kini tengah tersenyum pada Nara yang berdiri tak percaya melihat Ervan. Nara kemudian berjalan pelan mendekati Ervan dan memeluknya.

“Akhirnya kau tersenyum lagi,” kata Ervan.

Penulis: Gristyantika Prefy

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan