Sepenggal Indonesia

MATAMEDIA- RI.com – Menurutku pagi adalah salah satu anugrah. Anugrah untuk dapat berfikir panjang atas hari itu. hari yang berlaku di sepanjang bulan, sepanjang tahun dan sepanjang hidup. Jadi aku memilih mengawali pagiku untuk membaca kilasan berita. Iyaya, aku bermaksut agar gadget ku tak hanya digunakan untuk hal hal yang biasa, sekali kali aku ingin membaca berita juga, hehe. Maklum sih ya, anak muda jaman sekarang tidak lebih banyak yang tertarik terhadap mempelajari dan mencari tahu tentang berita berita politik dan sejenisnya. Maka dari itu, mulai sekarang aku ingin membiasakannya.

Anak muda keren adalah dia yang kritis, serba ingin tau, banyak menggali hal positif. Ya mungkin yang ku tau masih sedikit untuk pemuda pemudi jaman sekarang terhadap hal itu. Aku tidak akan memaksa untuk mengajak teman temanku untuk membaca berita dan sejenisnya, toh juga itu akan sangat berguna. Mengawali diri sendiri untuk memperbaiki dan belajar kritis, berkeingin tahuan besar, aku rasa sama saja. Karena semua berawal dari diri sendiri, yang nantinya benih benih akan muncul pada sendirinya, untuk mengetahui sejauh mana penggalan negeri kita, Indonesia.

Mila, Mila Milenia panjangku. Gadis kos yang sudah setahun lebih mengejar salah satu wish list untuk mencapai sebuah mimpi. Jurusanku sih, ilmu komunikasi, tapi aku lebih tertarik jadi seorang penulis. Tidak sangat melenceng, jadi tak apa. Pagi itu aku memulai hari seperti biasa, bedanya ditiap hari harus ada sedikit perubahan ke yang lebih baik dan bedanya lagi dihari ini aku memakai kebaya, sedikit memoles paras, mengonde rambut dan memakai sandal selop. Berjalan kaki menelusuri gang lalu melewati sudut sudut gang rumahan. Aku banyak melihat peristiwa yang membuat ku sangat tercengang dihari itu.

Anak kecil berlarian kesana kemari, ada yang sedang menyisir rambutnya, dan menggelung indah mahkota kepala. Mataku tertuju oleh gadis cilik yang berjalan menuju ke arahku. Betapa manis nya dia, memakai selop kecil berwarna gold, memakai kebaya, terdapat anting di telinganya, dengan rambut yang terurai sangat panjang bergelombang. Dia tersenyum padaku, aku makin tercengang, matanya tertuju pada kamera dslr yang ku bawa saat itu. begitu dia selesai dengan memandang fokus kamera, dia berucap. “apakah kamu ingin memfoto aku?” ujarnya. Aku sedikit mentertawakan bagaimana cara ia berkata terhadapku. Bahkan kita tak saling kenal saat itu, dan lucunya di tengah keramaian orang orang yang sibuk dengan masing masing urusannya ada saja anak kecil yang tiba tiba datang padaku.

Aku tak mengerti di hari itu, bahkan aku tak tahu nama siapa gadis cilik itu, dan berapa umurnya. Perkiraanku dia masih umur tujuh tahun. Aku tak dapat menolaknya, bocah itu sungguh percaya diri. Seolah olah dia menghadangku untuk pergi kuliah. Aku tak sanggup lagi, aku segera memberinya senyum lebar. Aku sangat salut luar biasa terhadap gadis itu, seolah olah aku baru saja disambut dengan hangat kala aku memulai kehidupanku disini, sendiri, dan baru kali ini.

“siap .. satu, dua, tig …. tunggu dek, mau kemana?” ujarku. Dia lari begitu saja menyusul teman temanya. Ku lihat saat itu semua menuju di salah satu tempat, aku ingin tahu, semua orang-orang ini akan kemana. Saat aku berjalan searah bersama mereka, aku banyak melihat wanita wanita berjalan lenggak lenggok dengan membawa nampan berisikan nasi kuning dengan hiasan cantik. Ada yang membawanya persis disamping pinggulnya, ada juga yang menyungginya, ada juga yang menaburkan bunga bunga di sepanjang jalan dan lain lain. Aku semakin ingin tahu saja. Aku berjalan searah bersama mereka.

Setelah sampai di sebuah gedung tua setengah jadi, semua berkumpul. Yang jauh mendekat, yang dekat semakin merapat. Aku tercengang hebat di hari itu. apalagi setelah aku melihat kain amat besar itu dikibarkan. Dan tangan tangan terangkat dan hormat kepadanya. Menyanyikan lagu kebangsaan di susul dengan lagu berlirikkan nama kartini. Semua serontak, bernyanyi lepas dengan masing masing senyum lebar. Aku yang berada di gedung tua berlantaikan tiga ini tak henti hentinya mengambil foto berkali kali. Aku begitu bersyukur, di hari itu aku dapat menyaksikan satu kejadian yang benar benar membuatku tercengang hebat. Bahkan aku ada disana dan dapat merasakan semuanya.

Menurutku di hari itu adalah hari dimana wanita dapat benar benar sangat dimuliakan. Meski harusnya juga seperti itu. Saat itu aku dapat menyimpulkan bahwa, wanita wanita itu ibarat mutiara yang letaknya didasar laut. Semakin ia terletak di dasaran, semakin ia terlihat indah dan sangat di cari. Mungkin sebenarnya itu kaidahnya. Tapi aku salah besar. Justru wanita wanita sekarang ini malah lebih merubah dirinya dengan drastis. Meski masih ada yang benar benar masih mengikuti tradisionalisme, tapi aku juga masih sangat sering melihat kebanyakan wanita mengecat rambutnya, menyambungnya, menebalkan alis dengan berbagai alat yang bahkan alat alat itu dapat menyakitinya, mengikuti trand yang tak kunjung habis, sedangkan mereka banyak meninggalkan kebudayaannya.

Kadang aku sendiri juga bingung, bahkan bukan hanya mereka, terkadang ada hasrat yang selalu ingin mengikuti perkembangan zaman. Sungguh malang sebetulnya, aku bertanya tanya pada diriku sendiri, apakah dulu wanita kepunyaan bangsa mengajarkan kita menyulam alisnya, menebalkan bibirnya, mewarnai rambutnya, atau mungkin melukis tubuhnya hingga sedemikian rupa. Terkadang, aku merasa kasihan terhadap wanita pertama kepunyaan bangsa indonesia. Apa beliau bakal tenang disana, apa beliau dapat selalu tersenyum melihat tingkah anak anak bangsanya kini, atau beliau justru malah menangis melihat anak anaknya seperti kami ini.

Kita tak pernah tau, dan tidak mau mencari tahu. Bagaimana perjuangan wanita nomor satu itu. yang jelas pada hari itu, semua memanggil seru namanya. Di sekolah sekolah melakukan penghormatan di tiap tahunnya. Bahkan di tiap tiap sudut kota, termasuk di sepanjang jalanku hari itu. dengan sederhana dan tak mewah mewah, mereka mengenakan kebaya yang ada, memasak berbagai tumpengan, menserukan namanya untuk berterimakasih dan bersyukur atas dirinya. Iya, semua bakal terjawab seiring perkembangan zaman.

Ah aku tak tahan lagi. aku begadang semalaman ditiap harinya, hanya demi menyelesaikan tugas dan skripsiku. Terkadang aku begitu sangat semangat juga sebaliknya. Di usia yang sekarang ini kadang aku muak dengan berbagai rasa, capek, rasa gundah, rasa malas, rasa yang begitu semangat dan rasa rindu yang kian berlebihan. Aku rindu terhadap semua yang berhubungan denganku. Suatu ketika, aku pulang dari tempat berjuangku untuk menyelesaikan tumpukan skripsi. Hari itu kian memetang. Tak biasanya aku menuju ke kos melewati tiap sudut kota dan gang, di hari itu aku ingin melewati jempatan layang sembari melepas letihku. Dengan secangkir kopi panas yang ku tenteng di sepanjang jalan.

Dalam sunyinya petang, aku berada di tengah tengah jembatan layang yang letaknya persis di samping gedung besar setengah jadi. Aku berdiri di tepatnya. Begitu sangat indah saat gedung gedungnya berpapasan dengan matahari tenggelam. Aku yang disana berharap semua dapat melihat saat saat itu. dimana satu kejadian antara siang menuju malam di mulai. Yang ku tahu di saat ini banyak orang orang mulai beristirahat dengan tenang, berkumpul dengan keluarga dan sejenisnya. tapi tidak untukku.

Saat aku menyeduh sedikit demi sedikit kopi panasku, aku melihat sesuatu. Satu lagi kejadian yang mungkin benar benar dapat membangkitkan semangatku. Ia berjalan, membereskan kotak makan yang terbungkus kertas minyak. Dengan menenteng beberapa alat berat ia berjalan perlahan di petangnya hari. aku tahu ia akan berjalan menuju kemari, melewati jembatan layang ini. Dan dugaanku benar, perlahan ia berjalan menuju arah balikku. Tak ku sangka, ia lebih keriput dari fikirku. Aku tak kuasa melihatnya. Ia berhenti dan melepas sendalnya yang sudak koyak, entah mengapa sepertinya ia lebih suka tidak beralas kakikan. Dia berjalan persis melewati tempat berdiriku. Tiba tiba ia sedikit menunduk dan tersenyum padaku.

Saat itu, disini sangat sepi. Sekilas aku melihat poster yang terpampang tepat saat ia berjalan. “Hari Buruh Nasional”, sekilas aku membacanya. Aku teringat sesuatu bahwa di hari itu adalah hari dimana para buruh sangat di ingat. Akan tetapi, mengapa ia tak cuti pada hari itu. aku makin penasaran, aku seringkali melihat laki laki tua itu bekerja hingga petang. Biasanya aku tak seingin tahu ini, tapi lama lama aku penasaran terhadapnya.

Kumuh, kotor, sedikit bau, tidak ada dinding, yang ada hanya rangkaian kayu yang bertembel kardus. Ia masuk, terdengar serentak jawaban salam dari balik pohon tepat di depanku. Sepertinya ia banyak memiliki anggota keluarga, sangat ramai, dan banyak suara anak kecil terdengar di balik rumah yang berdiri kokoh dengan banyak kardus. Aku sempat berfikir bahwa mengapa bisa mereka hidup seperti itu, dimana anak anak yang biasa membantunya bekerja untuk membiayai kebutuhan hidup keluarga tersebut.

Tidak seperti biasa, kedua anaknya yang sudah dewasa membantunya bekerja, tapi akhir akhir itu mereka tak nampak lagi. yang ada hanya lelaki tua, keriput, yang sering pulang petang, berjalan di jembatan layang, dan sendiri aku kasihan terhadapnya, tapi bisa apa aku. Sayangnya, disini aku juga jadi anak rantau yang harus menyelesaikan tugas di tiap harinya. Untuk tak peduli juga tak berfikiran, aku sangat tidak bisa. Aku harus bertindak untuk hal ini.

Pagi itu, sebelum jam kuliah di mulai, aku sempat bertemu dengan bapak bapak yang akhir akhir itu sempat mencuri perhatianku. Aku bingung, dimana rasa belas kasihan warga sekitar saat mendapati ada segelintir demi sgelintir orang yang kurang beruntung dalam masalah ekonomi disana. sedihnya, tidak ada tindakan atau perlakuan khusus dari pemerintah. Sebenarnya aku tak boleh mengambil keputusan ini. Tapi melihat ada orang orang seperti mereka, aku harus segera melakukan sesuatu.

Di hari yang sama, aku menjumpai salah satu orang yang sudah lama menetap di kota rantauanku itu. aku bercerita banyak hal, aku berbicara sebisaku tanpa ada dorongan dari segi manapun. Setelah aku berbicara mengenai apa yang ku tahu, dan dia sudah dapat menjelaskannya. Kini aku dapat menyimpulkan, orang-orang yang hari ini tidak mampu itu terbedakan menjadi dua jenis, yang pertama orang-orang dengan keterbatasan fisik atau jiwa, dan orang orang yang tidak mau berfikir panjang.

Di era sekarang ini, sebagian besar masyarakatnya, lebih memilih menggunakan prinsip yang kedua. Mengapa demikian, karena mencari uang itu mudah, dikalangan remaja bisa saja mengamen, dan sejenisnya atau lebih parah lagi sampai di tahap mencopet atau mencuri. Hal tersebut bisa di dasari dengan kurangnya pendidikan dalam era saat ini. Tanpa adanya pendidikan, dapat mendorong masyarakat melakukan apa saja yang ia mau, tanpa harus ada kata bekerja keras dan menerapkan prinsip selalu bersyukur.

Pada dasarnya, hal hal seperti itu bisa kita dapat melalui sebuah pendidikan. Lantas bagaimana untuk menunjang pendidikan tersebut jika segelintir demi segelintir orang tidak mau. Pasti selalu ada cara untuk hal ini, salah satunya ikut berpartisipasi pada saat hari pendidikan nasional, dengan semangat yang menyala nyala, bahwa kita selalu bisa.

Kesimpulannya, indonesia itu mempunyai sepenggal hari, dengan hari hari bersejarahnya, dengan hari hari nasionalismenya. Indonesia itu punya satu hari yang dapat melahirkan namanya hingga sekarang ini, di antaranya, terdapat seperti hari kartini, hari buruh, dan hari pendidikan. Yang mungkin setiap harinya, dapat mengangakat satu peristiwa penting yang kemudian dapat di jadikaan sebagai pondasi di setiap orangnya untuk menjadi yang lebih baik lagi.

Di suatu hari, aku sangat begitu mengerti, mengapa Indonesia selalu punya hari penting, karena aku tau, sepenggal indonesia tidak hanya jadi cerita saja, ada cerita di balik hari hari bersejarahnya.

Lilis Setyowati

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan