Sekilas Hiruk-Piruk Pesantren

MATAMEDIA-RI.com

Gema adzan subuh berkumandang mentari tersenyum alam terbangun, lantunan ayat-ayat suci Al-quar’an hiasi lautan ilmu yang berbentang luas. Tempat selalu ramai jauh dari sepi sejuk menenangkan hati yang sedang setiap jiwa yang rapuh, merasakan aura putih terpancarkan wajah berseri yang tak kenal keluh berjiwa tangguh. Semangat yang berkorban membara dalam memperjuangkan tanah air tercita dengan seruan pembakar semangat “ allahuakbar … allahuakbar … allahuakbar .. “ kebangkitan perjuangan Indosesia sampai dengan mencapai kemerdekaanya tak lepas dari peran santri dan ulama. Perjuangan pergerakan ulama dan dunia santri tidak hanya dalam bentuk perjuangan fisik semata tapi juga perjuangan pemikiran dan intelektual. Kini telah banyak berdiri pesantren-pesantren di Indonesia. Tidak ada catatan resmi tentang kapan munculnya pesantren pertama kali berdiri di Indonesia. Perkembangan pesantren begitu pesat dan menjadi salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang  tetap kokoh dan konsisten sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan dan mengembangkan nilai-nilai islam.

Pondok pesantren adalah tempat menimba ilmu yang umumnya didirikan oleh seorang Kyai yang mengajar pelajaran agama yang bersumber dari kitab-kitab karangan ulama terdahulu kemudian menjadi rujukan. Santri yang datang awalnya hanya warga sekitar namun lambat laun santri kian  bertambah. Dengan terus bertambahnya jumlah santri, Kyai memutuskan untuk membuat gedung asrama untuk tinggal santri. ”Kobong” adalah julukan yang akrab yang digunakan kebanyakan santri. Awalnya ”Kobong” hanya sebuah ruangan yang sempit dirubah menjadi sebuah ruangan yang didalamnya bukan hanya sebagi ruangan mengaji namun juga tersedia tempat untuk mereka beritirahat, bercanda hurau, bertukar cerita sambil mengulas kembali hal-hal yang telah disampaikan sebelumnya. Santri yang datang juga bukan hanya dari daerah sekitar mulai dari pulau Jawa sampai luar pulau Jawa.

Tidak ada lagi kata manja, semua harus dilakukan dengan kata serba sendiri. Santri dituntut bukan hanya saja pandai mengaji namu juga pandai dalam cara bertahan hidup, cara mengahargai sesama, cara bagaimana menjadi manusia yang bermanfaat bagi agama dan bangsa. Semua kegiatan yang dilakukan benar-benar terpaku dengan ketepatan waktu. Dari sinilah nilai terpenting dalam mengetahui arti hidup yang sesungguhnya dengan tidak menyepelekan waktu. Karena tak ada artinya orang yang hidup dengan kepintaran dan kekayaan yang dimiliki jika tidak mengenal disiplin. Sejatinya disiplin adalah kunci terpenting dalam segala hal. Memang ini bukan perkara yang mudah, beradabtasi dengan ligkungan baru, orang-orang yang asing, semua kehidupan serasa berubah 180 derajat. Belum lagi penyakit yang konon menjadi sebuah hal yang sangat trend yaitu “ gudig “. Gudig adalah suatu penyakit kulit yang biasa dialami oleh santri. Rasa gatal yang teramat tanpa diobati langsung dan kondisi yang kurang sehat membuat penyakit ini mudah sekali menular dari satu santri ke santri lainya. Bahkan banyak yang berpendapat bahwa santri yang sudah pernah merasakan gudig  berati sudah benar diakui sebagai santri. Padahal diakuinya sebagai santri tidak harus dengan sepeti itu, tugas santri belajar dengan sungguh-sungguh sebagai wujud rasa syukur atas pemberian akal yang telah Allah berikan dan kunci dari hal yang terpenting dalam menuntut ilmu adalah mengarap ridho dan barokah dari sang guru.

Hal tersebut menjadi momok yang sangat menakutkan bagi kebanyakan orang. Mereka lebih sering memikirkan hal-hal yang dianggap menjijikan. Padahal penyakit tersebut dapat dicegah dengan pola hidup yang sehat dengan rutin membersihkan badan, pakaian juga peralatan yang digunakan. Membersihkan sebelum dan sesudah barang yang digunakan. Untuk makan pun tidak dapat dengan mudah, santri zaman dulu harus mencari kayu bakar terlebih dahulu meniup-niup tungku dengan sabar menunggu api menyala dan siap digunakan untuk memasak. Tentu semua itu tidak dilakukan dengan seorang diri. Semua kegiatan yang ada dalam pesantren dilakukan secara bersama-sama mulai dari bangun tidur, membersihkan lingkungan pondok, tertawa, menangis semua dilakukan secara bersama. Teman adalalah hal yang paling penting, karena teman memberikan peran penting setelah Kyai Asatid dan Ustdzh yang menjadi pengganti orangtua. Bagaimana tidak memberikan peran penting, teman yang selalu ada bersama melakukan kegiatan 24 jam setiap harinya yang merawat ketika sakit, yang selalu mengingatkan saat lalai, selalu sigap dalam segala situasi dan kondisi bagaimanapun. Semua itu bukanlah perkara yang mudah, apalagi bagi santri baru ini adalah perjalan yang berliku berat. Beradaptasi dengan lingkungan yang asing memerlukan waktu yang tidak sebentar.  Rela  berpisah dengan kedua sayap yang selalu ada menemani setiap waktu, yang selalu ada ketika  merengek meminta sesuatu, yang selalu tersedia dekapan dan belaian lembutnya, manusia yang Allah ciptakan dengan hati yang luar biasa. Jiwa yang tangguh diselimuti kesabaran dan kasih sayang yang teramat tulus. Derai air mata membanjiri pipi dipeluknya erat, erat bahkan lebih dari pelukan biasanya, kening yang tak henti di usap dengan berat hati ibu melepaskan pelukan sosok yang semula ini selalu ada setia dalam setiap rengekan.  Tangisan yang semakin menjadi-jadi ketika lambaian tangan terakhir, dipandanginya terus sampai bayangannya tak lagi terlihat.

Menagis menjadi kegiatan rutian setiap santri baru, berbagai macam tempat telah disinggahi untuk menangis seperti sedang maretapi nasib. Mulai dari kamar tentunya duduk didepan lemari, menutupi wajah dengan bantal, di masjid dan salah satu tempat terfavorit bagi santri saat menangis adalah kamar mandi. Menangis didalam kamar mandi tentu hal yang sangat merugikan karena selain membuat panik juga membuat waktu terbuang dengan sia-sia karena jumlah kamar mandi yang terbatas dan waktu yang terbatas. Kegiatan menangis ini merupakan hal yang sangat lumrah, berbagai macam alasan mulai dari alasan “kangen mama, kangen keluarga”, dan banyak alasan lainya. Ini semua karena mereka belum terbiasa dengan kegiatan pondok, santri diharuskan bangun diawal waktu untuk melaksanakan tahajut kemudian membaca Al-qur’an dilanjut dengan solat subuh yang wajib dilaksanakan secara berjamaah. Kemudian mengaji, membersihkan lingkungan pondok, makan dengan menu ala kadarnya  dan tidur diatas tikar gulung yang tentu tidak setebal kasur empuk yang ada dirumah.

Dalam perkembangan zaman yang terus berkembang dengan pesat, perkembangan  bentuk-bentuk pondok pesantren kini bermacam variasi. Mulai dari pondok pesantren yang mendirikan pendidikan formal seperti MI, dan MTS. Pondok pesantren yang menyediakan pendidikan formal yang lebih lengkap tanpa meninggalkan ciri asal pondok saat pertama berdiri dengan memadukan pendidikan berbasis nasioanl dan pendidikan kitab kuning yang dipelajari dalam kelas. Dengan begitu santri bukan hanya menerima ilmu dari duniawi saja namun juga ilmu akhirat dengan membangun lembaga pendidikan mulai dari MI, MTS dan MAN. Ada juga pondok pesantren yang menyediakan lembaga pendidikan yang lebih lengakap seperti SMA dan SMK dilengkapi dengan tempat praktek khusus bagi yang menggeluti bidangnya. Seperti tersedianya ruangan berisikan berbagai macam jenis mesin jahit, lab komputer, lab biologi, kolam ikan dan masih banyak fasilitas lain yang pondok pesantren sediakan untuk melengkapi kebutuhan santri dalam preoses belajar. Semua ini dilakukan supaya tidak ada lagi yang mengira tinggal dipondok pesantren itu hal yang menyeramkan, membosankan, dan hal negatif lainya. Sebagai santri harus bisa membuktikan pada dunia bahwa santri memiliki kemampuan yang luar biasa. Jiwa yang tanguh dan mampu bertahan dalam sistuasi dan kondisi apapun.

Seperti halnya  yang dialami santri zaman dahulu yaitu gudig. Ini merupakan hal yang sangat lumrah dialami oleh santri karena tinggal bersama banyak orang dan bersama dengan berbagai macam karakter dan kebiasaan. Daya tahan tubuh sangat berperan penting dalam hal ini. Bukan hanya gudig penyakit lainya yang sering di alami oleh santri adalah mag. Karena pola makan yang tidak teratur dan penyebabnya adalah sering mengkonsumsi makanan pedas dan mei instan yang tak sesuai dengan batasan mengekonsumsi yang seharusnya. Namun semua itu kini sudah dapat langsung ditangani dengan secara medis karena sudah banyak pesantren yang menyediakan klinik untuk berobat santri. Bukan hanya ketakutan akan gudig saja, dizaman yang serba moderen ini sulit rasanya untuk berpisah dengan dunia maya yang selalu hadir dalam keseharianya. Karena tinggal dipondok pesantren tentunya tidak diperbolehkan membawa peralatan elektronok seperti heandphone. Karena dikhawatirkan akan mengganggu saat proses pembelajaran. Jika santri ingin menghubungi keluarganya, pondok pesantren sudah menyediakannya. Tujuan dari pendidikan bukan hanya sebagai sarana untuk meningatkan kecerdasan murid semata tetapi juga untuk membentuk karakter baik sehingga santri dapat menjadi agen perubahan dalam masyarakat. Pendidikan hakekatnya merupakan gabungan antara intelektualitas dan moralitas. Jika dilihat kondisi pendidikan jaman sekarang sangat mengahawatirkan terutama dalam masalah moral. Zaman yang terus berkembang teknologi yang kian canggih semua dapat dilakukan dengan mudah namun hal yang sangat miris dan membuat mengelus dada adalah mulai mengikisnya rasa hormat kepada guru. Pada hal berkat gurulah semua profesi yang ada didunia ini ada doa guru yang selalu setia tertantun dihadapnya, ini menjadi perbandingan yang sangat berbanding dengan zaman jauh sebelum seperti sekarang ini yang selalu menghormati guru dimanapun berada. Kasus-kasus yang beragam yang harus benar-benar dirubah dari kebiasaan adalah membantah guru, bahkan sampai ada yang berani memukuli sampai nyawanya terenggut. Guru adalah orang yang akan mengantarkan kita ke langit, guru adalah orangtua kedua, sesungguhnya kesuksesan hanya didapat dari ridho guru dengan berbakti dan ta’dim pada guru. Miris sungguh negri ini.

Pondok pesantren mengajarkan kepada santrinya bukan hanya berupa ilmu pengetahuan tapi juga ilmu kehidupan. Karena apa yang santri lakukan, yang dilihat, yang didengar, yang dirasakan itu adalah semua ilmu. Menjungjung tinggi akhlak karena akhlak merupakan nomor satu dalam mencari keberkahan ilmu, jika hanya mengandalkan kepintaran dan kepandaian, setan pun demikian bahkan jauh lebih pintar. Namun santri harus dapat menempatkan dengan yang seharusnya. Guru yang berandil besar dalam proses peningkatan intelektual dan spiritualitasnya. Dengan Al-qu’an dan Hadist sebagai pedoman pesantren siap melahirkan generasi yang berintelektual tinggi, berakhlak mulia, cerdas, beriman. Tak sedikit kini pondok pesantren yang membuat kebijakan dengan menjadikan bahasa asing sebagai bahasa keseharianya yaitu bahasa Arab dan Inggris. Berbagai macam kegiatan juga kerap menjadi santapan santri pada keseharianya. Mulai dari bangun disaat langit masih gelap. Kegiatan yang dilakukan santri selain  belajar dikelas dengan menghafal Al-qu’an, Hadist, do’a amalan-amalan jariyah, berpidato, ekstrakurikuler dan masih banyak lagi kegitan yang ada. Nyatanya kegiatan mereka memang lebih padat dengan kebanyakan siswa-siswi yang tanpa belajar di pondok pesantren. Pasalnya santri harus pandai membagi waktu dengan sebaik mungkin. Dengan waktu yang terbatas, semua kegiatan memang awalnya seperti memaksa karena santri harus mematuhi semua aturan yang tertulis maupun tidak tertulis dipondok, namun dengan demikan akan menjadikan santri terbiasa dengan jadwal yang padat. Semua itu yang akan membuat mereka menjadi pribadi yang bukan hanya pintar tapi juga tangguh, tahan banting pada situasi apaun. Santri zaman now ini memang dari segi fasilitas tidak seperti santri zaman dulu, santri zaman now tidak perlu repot mencari kayu bakar untuk memasak, semua sudah tersedia dengan mudah, tidak perlu tidur di selembar tikar karena sudah banyak yang menyediakan kasur bahkan ada juga yang disertai dengan ranjangnya. Bagi santri yang tidak ingin cape mencuci juga sudah tersedia laundy, dan tidak perlu pergi kesungai untuk mencuci. Namun tentunya tantangan yang lebih besar harus siap dihadapi untuk menjawab problematik umat.

Dengan terus berproses menjalani semua dengan keikhlasan, menjaga semua yang telah Allah titipkan pada setiap insan karena yakin semua yang telah dititipkan oleh Allah akan diminta pertanggung jawaban. Dan hal yang pertama kali akan diminta pertangung jawaban adalah sholat. Sholat bukanlah perkara yang sulit dan berat untuk dilakukan, tapi tidak sedikit orang yang sering menyepelekanya seperti tidak takut akan akibat akan perbuatanya. Adanya iman di hari akhir supaya manusia berhati-hati dalam setiap tindakan yang dilakukan dalam menghadapi segudang godaan dunia fana. Semua orang pasti tahu bahwa kehidupan didunia tidak selamanya. Tidak sedikit orang yang merasa frustasi dan sedih yang berkepanjangan lantaran suatu peristiwa yang menimpanya, mulai dari belitan hutang, penyakit yang tak kunjung sembuh, dan masih banyak hal lainya. Tentunya semua itu tidak akan terjadi jika kita mengetahui seberapa baik hubungan kita dengan sang pencipta.

Semua orang terlahir dengan berbagai macam karakter, keberagaman itu yang menjadi warna dalam setiap hembusan nafas, ada santri yang sangat baik taat pada peraturan tak pernah melanggar, ada pula sebaliknya. Ustd dan Ustdzh yang membimbing santri juga tidak  memaksakan mereka berubah drastis menjadi seorang yang alim. Semua itu butuh proses. Di pondok pesantren itu proses dari segala proses, proses mengerti arti bersabar, ikhlas,. Dalam proses pembelajaran semua adalah bidak penentu perubahan, pembaharuan dan penyempurna segala aspek. Kehidupan yang harus disadari pembelajaran memerlukan pengabdian dan kepedulian yang dilandasi niat yang tulus tanpa bercampur tangan dengan asas dan ambisi pribadi. Takdir memang hanya Allah yang tau. Orangtua yang menitipkan anknya ke pondok pesantren bukan karna tidak sayang, bukan berarti membuang namun lantaran takut seperti pepatah salah satu kyai, “ lebih baik kamu menangis karena berpisah sementara dengan anakmu yang menuntut ilmu agama, dari pada kalau kamu sudah tua nanti menangis karena anak-anak kamu lalai teradap urusan akherat” KH. Hasan abdullah sahal.

Melihat problematika yang semakin memucat mulai dari kasus rumah tangga, politik, ekonomi dan masih banyak lainya. Semua yang mengedepankan nafsu tidak akan berujung pada kedamaian dan keindahan, justru sebaliknya. Hal yang paling miris adalah ketika orang yang dengan gagah menyanggupkan diri, berbondong-bondong menjadi perwakilan rakyat yang seharusnya mensejahterakan rakyat malah justru sebaliknya, kasus yang sering terjadi adalah kasus suap,  manusia itu diberi segala nikmat justru malah semakin terlena, semakin merasa tidak memiliki dan tidak merasa sedang di uji. Ujian yang sesungguhnya adalah saat merasa tidak diuji; keimanan dan ketakwaan benar-benar diuji agar dapat masuk pada lubang ke jerumusan. Tentunya bukan yang seperti itu yang diharapkan oleh negri ini, santri akan menjadi agen of change, yang mana harus memiiki sikap dan akhlak yang seperti panutan umat muslim Nabi Muhammad SAW, suri tauladan yang baik. Supaya kelak dapat menjadi pemegang amanah bagi masarakat. Jauh dari perbuatan yang Allah benci, semua itu dapat dibiasakan dalam pesantren. Dari hal-hal kecil yang terus dibiasakan seperti mengantri untuk mengambil jatah makan jika memang membawa untuk dirinya saja, tidak berbicara untuk dua orang namun ternyata dilahapnya sendiri. Bertangung jawab dengan melaksanakan segala tugas yang diberikan, pasalnya santri dibiasakan dengan segudang kegiatan yang padat, belum lagi jika sudah mendapatkan amanah sebagai pengurus. Tugas semakin berlipat ganda, menjadi pengurus adalah agen pembelajaran jiwa agar menjadi jiwa yang tangguh yang profesional yang disiplin tentuntunya, mereka harus siap sigap 24 jam untuk menjaga pondok, mulai dari membangunkan santri, mengurus ekstrakurikuler, mengurus tata usaha yang pondok sediakan, menjaga keamanan pondok dan masih banyak lainya. Menjadi bagian tata usaha adalah hal yang sangat membutuhkan keimaman yang kuat, karena  setiap hari selalu dihadapkan dengan uang bukan dengan jumlah nominal yang sedikit,  jika tidak amanah dapat saja mengambil selembar uang yang ada di laci. Namun dari sanalah ilmu yang sangat bermanfaat, dengan umur yang masih sangat muda belasan tahun mengurusi uang yang jutaan bahkan sampai ratusan juta rupiah. Untunglah semua pengurus bekerja dengan baik, karena mereka sadar jika semua itu akan diminta pertanggung jawaban, berapa jumalah barang yang terjual harus sesuai dengan nominal yang ada karena mereka tau mengambil apa yang bukan haknya itu adalah perpuatan dzolim yang dibenci Allah SWT. Tidak mudah memikul beban berat seperti itu, memang semua santri tidak terlihat seperti berat karena semua bekerja dengan penuh keihlasan dan keridhaan itu adalah ladang amalan yang akan menjadi bangunan di akhirat nanti. Dan tentunya akan siap menghadapi segudang problematika saat terjun kemasyarakat.

Bukan hanya siswa yang bersekolah formal saja yang mendapatkan banyak prestasi, santri juga memiliki segudang prestasi mengarumkan nama pondok saja namun juga mengharumkan nama kota kelahiran sekaligus mengangkat derajat seorang santri ke level yang lebih tinggi. Kemampuan yang dimiliki sebagian besar bukan dari pelajaran formal di dalam kelas, salah satunya adalah jika pondok mengadakan pagelaran seni. Mulai dari menata panggung, membuat dan memasang background membuat kerajinan, menari, drama dan lainya, semua itu didapat tanpa ada pelatihan khusus. Tentunya semua itu dibangun atas dasar kerja sama yang kuat, dan berbagai perdebatan dalam pendapat semua keanekaragaman itu membaur menyatu dalam satu wadah yang menjunjung tinggi nilail kebersamaan. Dengan kerja keras, disiplin keras, dan bersabar keras.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an menunjukan pukul 17.00 petanda disudahinya semua kegiatan untuk mempersiapkan diri menyambut kumandang adzan. Mengantri adalah sebuah tradisi santri dimana pun tempatnya mengantri tidak akan lepas dalam keseharian mulai dari masuk sampai keluar pintu, makan, mandi, jajan, berjalan menaiki tangga yang bukan hanya terdiri dari dua lantai. Mengantri mengajarkan pada santri agar dapat bersabar, bersabar dan bersabar saat ingin mendapatkan sesuatu, karena tidak ada kesenangan setelah kepedihan berjuang. Dapat dibuktikan setelah mengantri sangat panjang akan mendapatkan satu piring nasi. Lauk yang tidak sesuai dengan selera adalah alasan terfavorit dikalangan santri yang menyebabkan santri tidak makan dan melampiaskan pada makanan yang siap saji seperti mie. Pada dasarnya penyakit yang terdapat pada santri itu atas perbuatan sendiri, pondok pesantren telah menyediakan semua kebutuhan yang santri butuhkan. Ketidak sesuaian itu adalah bentuk pelatihan pada diri agar dapat merasakan saudara-saudara seiman yang tidak dapat mendapatkan hak yang layak. Dan tentunya sebagai wujud rasa syukur atas segala perjuangan pahlawan terdahulu yang telah membuat generasi selanjutnya mendapati kehidupan yang lebih layak.

Kata khidmat itu tidak akan terlepaskan dari persantren. Baik itu santri yang nakal, yang sudah menjadi alumni pun pasti memiliki jiwa demikian pada pondok. Pondok pesantren memiliki segudang keindahan didalamnya, mengampu semua rasa puluhan, ratusan bahkan ribuan orang didalamnya. Ketenangan selalu didapat, nasihat lembut dari para Kyai, Ustd, Ustdzh yang selalu membuat hati yang lunglai menjadi gugah karena mengingat pada sang Maha Indah. Malaikat tak pernah salah, setan tak pernah benar, manusia bisa benar bisa salah, maka kita dianjurkan untuk saling mengingatkan bukan saling menyalahkan.

Kekayan, pangkat jabatan bukan menjadi pembeda antara manusia, semua manusia itu sama hanya ketaqwaan yang dapat membedakan, serta amalan-amalan baik yang akan menjadi nasib. Manusia tidak akan lepas dari kata hitung dan timbangan semua aktifitas manusia pasti menggunakan dua kata tersebut, dalam bertransaksi salah satunya pedagang dipasar yang berjuang mencari nafkah mengunakan timbangan untuk mengukurnya. Sama halnya dengan kehidupan akhirat, kehidupan yang kekal, yang mana akan ditanya, akan diminta pertangungjawaban atas segala yang telah Allah titipkan. Dipergunakan dengan baik dijalan Allah kah? yang akan mengantarkan ke tempat yang telah dijanjikan Allah, yang indahnya tiada tara. Atau justru malah menjadi sebagai kesesatan karena lalai dan terlena atas kenikmatan yang telah Allah berikan. Nyatanya semua yang berkaitan dengan hari akhir itu menakjubkan.

Ujian, hal yang bisa dilakukan di setiap lembaga pendidikan mana pun dan hanya dilakukan sebentar tanpa sampai larut malam. Pondok pesantren memang berbeda, santri didesain menjadi jiwa yang tahan banting, dengan semangat antusias dibarengi optimisme. Ujian atau sering dengan sebutan imtihan, dimana semua santri harus membawa buku kemana pun perginya.  Karena “sebaik-baiknya teman diwaktu duduk adalah buku” di manapun bersinggah santri tidak akan merasa sendiri walaupun sebenarnya memang sendiri. Ujian yang dilaksanakan bukan hanya dalam mata pelajaran formal namun juga pelajaran pesantren yang waktuya mulai dari pagi sampai malam dengan menggunakan sistem shif. Santri harus mampu mengampu sekitar 4-5 mata pelajaran setiap harinya. Mulai dari ujian tulis, sampai ujian lisan, membaca kitab, praktek amalan, fikih, olahraga, dan lainya. Ujian ini pasti akan terasa sangat berat namun arahan dan bimbingan yang tak pernah luntur dari para pahlawan santri dengan semboyan pembangkit semangat jiwa yang malas, pembangkit jiwa yang ragu “ MAN JADDA WA JADDA” kata yang sangat minim namun memberikan dampak amat besar bukan hanya sedikit orang.

Hari yang terus berganti menjadi bulan semua santri melakukan kegiatan sebagaimana biasanya. Hari itu salah satu seorang santri mendapati berita, namanya terpanggil dalam speaker bagian penerimaan tamu yang menandakan ada seseorang  yang menjenguknya. Dengan mata yang  berbinar-binar senyuman yang lebar senang sekali rasanya setelah berbulan-bulan tak bertemu dengan sanak kelarga, rindu yang mengebu selama ini terbayarkan sudah. Akan mendapati pelukan dari ibu yang dia harapkan. karena ibunya sudah berjanji akan menjenguknya pada bulan itu. Setelah menuju sumber suara dia mencari keluarganya namun dia tidak mendapati, seorang pria berambut ikat dengan kaos lusus menepuk pundaknya dan berkata “ ayok kita pulang “.

Ternyata itu bukan ibu, tapi paman adik dari ibu. “dimana ibu dan yang lainya paman” tanya santri yang masih polos.

“mereka semua ada dirumah, sudah menunggumu, tapi kamu harus berjanji tidak akan membuat ulah sesampainya dirumah ya .. dan kamu tidak boleh menangis” santri merasa bingung atas perkataan pamanya tapi rasa rindu yang teramat mengabaikan perkataan pamanya.

“Iya paman” jawab sumringah.

Sesampainya dirumah dia dikejutkan dengan banyaknya orang yang berkunjung kerumahnya, dengan bendera putih di depan rumah yang menadakan ada orang yang telah meninggal dunia. Dia berlari dan membuka penutup dari mayat tersebut. Ternyata itu adalah ibunya, teriakan histeris membasahi ruangan yang sudah dipenuhi banyak sanak saudara.

“Ibu … ibu .. ibu ..” semua bayangan kebahagianya sirna, hati yang hancur berkeping, rindu yang menggebu terbayar dengan cara seperti itu. Yang ada dibenaknya tidak ada lagi yang akan memelukku, tak akan ada lagi akan mengelus kepala ketika akan berpisah, enam bulan lalu adalah momen pertemuan terakhirnya. Pada pertemuan terakhirnya itu ibu berpesan “Ikuti semua perintah gurumu, tetaplah berusaha walau kau menemukan banyak kesulitan, jaga diri dengan baik, jangan pernah membantah kepada guru, ibadah jangan ditinggalkan, tugasmu itu disini belajar, belajar, belajar. Ngga usah neka, neko. Ibu menitipakan kamu disini supaya kamu bisa mendoakan ibu selalu, agar kamu jadi anak yang soleh, le ..agar kamu tidak lalai dalam urusan agama, maaf yo le, ibu tidak pernah memberi bekal yang banyak dan istimewa seperti teman-temanmu yang lain, pokoknya ibu hanya ingin kamu jadi anak yang soleh. Ibu pamit ya le, enam bulan kedepan baru ibu akan berkunjung lagi”

Penggalan tersebut mengajarkan untuk lebih memahami dan mengakui akan kuasa sang Maha Bijaksana. Takdir adalah salah satu rahasia. Takkan ada satu orang pun yang mengetahui akan takdirnya sendiri. Terus taat menjalankan dan menjauhi segala larangan-Nya merupakan hal yang diperintahkan bagi setiap insan.

Semua itu adalah takdir yang tak ada yang mampu merubahnya sehebat apapun itu, itulah ujian sebenarnya, ujian yang lebih dari sulitnya ujian mata pelajaran killer sekalipun. Dimana manusia yang paling kita sayang harus kembali pada sang pencipta dengan cara yang tak bisa diduga-duga. Karena dari situ Allah ingin menjadikan hambanya menjadi yang taat, dan tak henti berbuat baik, belajar kata ikhlas, dan ridho kata yang sangat mudah bila diucap manun tak sedikit orang yang sulit sekali menerimanya. Semua yang ada dimuka bumi ini adalah milik Allah, dan akan kembali pada-Nya tanpa ada yang bisa menghalangi. Allah titipkan kekuantan melalu ujian-ujian yang datang, Allah teguhkan sesuatu dari kita untuk memahami  makna sabar, Allah mengambil sesuatu dari kita untuk memahami makna arti ridho.

Di tengah dinamika sistem kehidupan yang mulai meninggalkan moral dan prantara sosial, geliat lembaga-lembaga pendidikan Islam khususnya pesantren menyiapkan peserta didiknya yang tidak saja memiliki keilmuan life skill, tapi juga menjunjung tinggi aspek moral sebagai landasan berpijak. Pondok pesantren adalah tempat terlahirnya calon-calon pengemban amananah negara, dan belajar keilmuan agama untuk menyongsong hiruk-piruk masa depan. Menjawab dan memecahkan problematika masyarakat. Perkembangan pesantren saat ini juga sudah banyak yang khusus untuk mahasiswa, setelah menyelesaiakan pendidikan formal tentunya setiap orang mempunyai cita-cita untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, mulai merantau jauh meninggalkan kampung halaman.  Gudig  bukan lagi menjadi hal yang ditakuti, bukan hanya zaman yang berkembang pesat, demikian pula dengan santri semakin pertumbuhannya yang semakin subur. Gudig bukan lagi menjadi alasan orang untuk tidak mau menuntut ilmu dipesantren. Ditambah lagi beberapa Universitas yang mewajibkan mahasiswanya untuk mondok walau hanya satu tahun. Mengingat  pergaulan yang kian marak dengan berbagai macam kasus yang mana wanita yang sering menjadi korbannya. Setidaknya dengan beradanya para mahasiswa akan mengurangi aktifitas malam yang sering menjuru pada kemadaratan. Selain disibukan dengan segudang kegiatan dikampus, mahasiwa juga dibekali ilmu agama. Kekuatan elit pesantren tidak diragukan lagi, keterlibatan pondok pesantren dalam membentuk dan mencerdaskan bangsa Indonesia.

Pondok pesantren telah mengukir sejarah yang takan pernah lekang, mengajarkan arti, makna dari setiap perbuatan dan setiap  peristiwa-peristiwa yang terkadang tanpa disadari memberi nilai yang teramat penting. Bahkan hal terkecil pun jika terus dibiasakan akan menjadikan orang yang hebat. Tempat yang selalu membuat teguh jiwa yang rapuh, tempat dimana Allah harus selalu dilibatkan dalam setiap langkah perbuatan, hembusan nafas. Tempat yang memperkenalkan manusia dengan alam yang sesungguhnya kehidupan yang kekal, yang dimana pertanggung jawaban akan diminta-Nya, tempatnya manusia bermimpi, dimana selalu terpanjatkan doa yang tak pernah alfa, yang selalu hadir dihadapannya, tempat yang mengajarkan arti sebuah persahabatan, tempat yang membuat jiwa yang di dalam memiliki kepribadian yang baik, dibaluti dengan ketakwaan, yang mengajarkan arti hidup, bahwa hidup hanya sementara hanya sekali, mengajarkan hidup untuk berarti dengan menomer satukan Allah. Tempat terindah yang menagarkan keindahan dalam menjadi hidup untuk bekal bertemu dengan Sang Maha Indah, tetaplah kokoh engkau wahai lautan ilmu yang condong pada keagungan Islam.

Penulis:  Mayli Izzatul

Tinggalkan Balasan