REINKARNASI

MATAMEDIA-RI.com

“Kryuk..kryuk..”

Suara nyaring dari mulutnya yang tidak berhenti bergetar dijejali rempeyek kacang. Mimiknya bergerak secara acak seolah rempeyek itu adalah makanan terakhir yang masuk ke mulutnya. Sejelek-jeleknya dia saat ngemil, aku paling suka saat dia mengeluarkan umpatan‘’Bangsat, capek banget ngunyah!’’ Aku tertawa, tapi dia mana melihatnya?

Dia sedikit gila. Aku yakin dengan stigma ini. Karena aku sering memerhatikannya secara konkret. Tubuhnya mungil, bahkan lebih pantas disandingkan dengan anak sekolah dasar dibanding menjadi anak kuliahan. Aku tahu akan kebenaran ini bahwa saat balita dia disuntik APTX 4868 saat vaksinisasi bukannya imunisasi polio. Ada kekeliruan di masa lalunya hingga sampai saat ini, dia tidak tumbuh membesar. Entah siapa yang harus disalahkan.

Aku suka cara dia berbicara sendirian di kamarnya dengan pandangan kosong ke arah atap. Sesekali dia tertawa kecil atau terbahak-bahak memandang layar ponsel yang sampai saat ini aku tidak tahu bagaimana cara menggunakannya. Dia wanita kesepian, atau aku boleh menebak dia hanya mau mengobrol dengan orang tertentu saja. Orang-orang medioker tidak dalam circle pertemanannya yang penuh absurditas. Aku pernah melihatnya berbicara memandang atap dengan penuh retorika, saat aku melintasi pintu kamarnya yang tidak tertutup sempurna. Harum mie instan goreng rendang menyerbak ke arah luar. Aku tahu itu makanan favoritnya. Hampir setiap hari aku mencium bau tersebut setiap melintasi kamarnya.

‘’Di kehidupan berikutnya, aku ingin seperti kamu ah. Bisa berjalan di atap, merangkak di dinding, terus bisa masuk ke gelas kopi’’ dia terlihat bahagia, meski itu bukan obrolan impersonal dan hanya sebelah pihak. Itulah saat-saat di mana aku cemburu untuk pertama kalinya, dengan cicak yang selalu menemaninya berbicara.

Dia sedikit apatis akan kehadiranku. Bahkan dia tidak tahu betapa aku bahagia ketika melihatnya keluar dari kamar dengan pakaian lusuh dress selututnya yang selalu ia kenakan tiga hari berturut-turut tanpa menggantinya. Aku memandangi matanya yang tidak menggunakan riasan apapun. Kelopak matanya menjorok ke dalam hingga terlihat sedikit sipit meski tidak sipit-sipit amat. Tangan kirinya membawa kotak bekas makanan yang sudah pasti ada sisa tulang belulang di dalamnya. Entah itu ayam atau lele yang bisa aku santap untuk makan siang.

‘’Brukk!’’ lemparan itu tepat mengenai tempat sampah di dekatku yang sudah penuh dengan sampah-sampah lainnya, hingga isi kotak makanannya yang hanya sisa-sisa tulang belulang berceceran. Dia hanya membiarkan, lalu pergi ke kamar dan menutup pintu.

Aku mencintainya bukan karena dia memenuhi kebutuhan perutku. Ada konsep lain yang aku konstruksi sendiri yang siapapun tidak akan mengerti. Bahkan untuk dia sekalipun. Standar ‘mencintai-dicintai’ bagi manusia pastilah rumit. Mereka mengenal bahagia, terluka, ditinggalkan atau tetek bengek ungkapan-ungkapan yang tidak aku pahami. Mereka mengenalku sebagai makhluk pemburu makanan yang suka berkeliaran di jalanan. Atau jika kami beruntung bisa singgah di rumah, diakui sebagai peliharaan, dan diberi makanan secara rutin. Ah betapa beruntungnya.

Aku seringkali terluka saat ditendang atau diusir secara vandalis oleh mereka hanya karena mencuri sebagian makanan sisa. Anatomi tubuhku memang tidak terstruktur dengan indah dan tidak berselera bikin orang gemas. Aku kotor, bau dan buluku tidaklah lebat. Tapi bisakah dia menganggapku ada? Bukan sebagai gagasan atau bahasa namun sebagai makhluk yang senantiasa hadir dalam realita fisik yang utuh, makhluk yang bereksistensi untuk diakui. Aku ingin sekali berada di dekapnya, mengendus ke buah dadanya yang mungil, merasakan kehangatan dua makhluk berbeda yang saling mencinta. Ah setan! Bukankah imajinasi mulai mengelabuhi pikiran hewaniku?

Aku mencintainya seperti Mahabhiksu yang bermeditasi memikirkan tidak berpikir. Dia melakukannya dengan cara tidak berpikir. Dan begitulah cintaku kepadanya, tanpa pikiran. Karena pada hakikatnya aku bukanlah makhluk berpikir. Dan aku cukup mencintainya secara pragmatis.

Inilah hal paling mendebarkan saat bunyi ‘’kreeek’’ di pintunya dengan perlahan menggetarkan kupingku bukan hanya perasaanku. Sosoknya pasti akan muncul dengan dress selututnya yang kumal serta bekas makanan yang siap aku santap sebagai hidangan makan sore. Matahari di luar sana tidak terlihat, hanya memantulkan sedikit siluet kekuningan yang terhalang bangunan kost. Tubuhku seperti yang sudah kujelaskan, tidaklah gempal hanya sebesar Aqua 1500 ml dengan tambahan empat kaki yang pasti terabaikan oleh pandangan mata mungilnya.

Aku memandanginya lama dan terus-menerus kupandangi mata itu hingga dia mau sedikit saja menoleh ke arah mata hijauku yang bening. Persetan dengan perut yang semakin binal berkontraksi karena lapar. Dia melihatku, dia terdiam di tempatnya memandangiku lama. Aku refleks mengedipkan mata saat mata kami saling beradu. Kusalurkan rasa nyamanku dan segala rasa brengsek ini. Dan sialnya dia begitu, mengedipkan matanya juga dan tersenyum ke arahku sebagai tanggapan atas tingkah gugupku. Kami seperti dua makhluk idiot dalam salah satu scene Pulp Fiction saat Mia memberikan lelucon kepada Vincent Vega tentang tiga tomat. Kebetulan aku pernah menonton film ini bersamanya, dia duduk di kursi dengan kopi susu andalannya. Sedangkan aku berada di balik pintunya, mengintip di sela-sela yang dibiarkan terbuka.

Saat malam, dia juga tidak pernah menutup pintunya dengan rapat seperti penghuni kos lainnya. Selalu dibiarkan sedikit terbuka. Pernah aku mengendap diam-diam masuk ke dalam kamarnya. Mengamati caranya tidur yang tidak banyak gerak. Sangat menyenangkan, hingga aku lakukan berkali-kali dalam beberapa waktu tanpa ia sadari. Dan begitulah caraku mencintainya, diam-diam, tanpa mengeluarkan bunyi agar dia tetap tidur pulas.

Saat dia pergi dalam kurun waktu cukup lama. Entah sedang berada di belahan bumi mana. Aku selalu mengunjungi kamar kosnya untuk sekadar lewat atau memastikan bahwa tidak ada penjahat yang memasuki tanpa ijin untuk mengambil beberapa barang miliknya yang tidak seberapa.

Aku merindunya, bukan sekadar tulang belulang sisa makanan yang mendarat di mulutku. Sudah aku bilang, ini bukan perkara perut. Sangat lama aku menunggunya kembali. Aku rindu, merindu segala tentangnya; bau mie instan, suara kripik dari mulutnya, dan bunyi ‘’srek..srek’’ saat sandal jepitnya bergesek dengan lantai. Oh! Aku merindukan umpatan ‘’Bangsat! Capek banget ngunyah’’ dari mulut mungilnya itu.

Aku sudah berjalan jauh, hingga lupa dari mana aku bermula. Mencarinya tanpa akal membuatku tersesat. Aku akan melakukan apapun, sungguh. Agar bisa melihatnya kembali. Mungkinkah aku harus melakukan tindakan bodoh sebagai pengorbanan rasa cintaku kepada wanita sinting itu?

Suara bising kendaraan membuatku mual. Aku abaikan rasa lapar dan kedunguan atas rencana sebuah pengorbanan. Aku hanya meyakini bahwa itu satu-satunya jalan. Aku harus membunuh diri. Mengakhiri hidup untuk menuju kelahiran kembali. Aku ingin bereinkarnasi.

Berada di tengah jalan yang ramai kendaraan adalah cara terbaik untuk mati seketika. Aku menunggu lampu merah yang masih berjalan di angka 60 detik. Dadaku berkontraksi cepat. Aku harus bersiap akan kematianku. Saat lampu hijau menyala aku membisikan keinginanku agar bereinkarnasi menjadi makhluk yang setara dengannya. Aku muak menjadi makhluk tak dianggap yang hanya bisa menunggu di dekat tempat sampah untuk memunguti sisa makanannya. Aku ingin diajaknya berbicara. Bercerita tentang hal-hal intim, trivial atau sesuatu yang tidak penting. Itu saja.

Saat mobil abu-abu menuju arahku dengan kecepatan yang sulit terdeteksi, benda bergerak itu semakin mendekat. Plat nomor itu semakin membesar terbaca oleh mataku yang tidak sebening lalu. Aku merasa tubuhku melayang, melepas batas antara realita dan surealita tanpa jeda. Aku tidak tahu apa yang akan aku temui setelah ini. Di saat ketegangan akan kematian, aku justru mengingat pemikiran etis dari Confucius tentang bagaimana hidup yang baik bagi makhluk hidup dan bagaimana mereka mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Aku ingin mencapai kelahiranku kembali, itulah kebahagiaanku. Namun pemikiran binal lain juga terbesit dalam otakku yang tidak sebesar otak manusia.

Aku meradang…

Mengumpat…

‘’Bangsat! Nyawaku kan ada sembilan!’’

 

Karya: Wiwin Winarni

Tinggalkan Balasan