#MeriamBamboeParaPemoediPemoeda

MATAMEDIA-RI.com – Luar biasa sekali pada tanggal 28 Oktober kemarin, jagat maya seolah menjadi satu, tidak terbelah menjadi dua atau bahkan terbelah menjadi empat bagian, jagat maya satu frekuensi memperingati #HariSoempahPemoeda entah itu dari akun sebenarnya akun dari instansi-instansi pencetak manusia-manusia siap kerja dengan sikap luhur, akun-akun kelembagaan yang ada. Bahkan buzzer politik antara petahana dan buzzer dari yang sedang mencoba berkuasa satu frekuensi, walaupun gak sampai beberapa menit kemudian mereka kembali sikut di kolom komentar atau memposting segala kelebihan dari yang memperkerjakan mereka dan menyebarkan kekurangan lawan mereka. Minimal kita sebagai bangsa, sebagai pemoedi dan pemoeda #RepublikIndonesia dalam momentoem #HariSoempahPemoeda satu frekuensi. Dengan desain yang begitu militan, epic, dan bagus, dimata terlihat begitu idealis, seperti #PemoediPemoeda zaman dulu yang sebenar-benarnya idealis.

Hari ini dan besok ketika sudah kembali beraktivitas entah sudah ada euforia apa lagi di jagat maya, apakah tetap terkandung semangat dan nilai-nilai yang ada pada #SoempahPemoeda?

Beberapa hari sebelum #HariSoempahPemoeda aku mencari-cari foto di folder laptop, tentu bukan foto pribadiku, aku ini seorang pejalan, kala sebelum diriku di tabrak oleh kendaraan, aku dan kameraku remuk, aku selalu mengabadikan momen para pemoedi-pemoeda, baik kala turun ke jalan maupun melakukan sesuatu dengan cara elegan. Aku selalu sumringah ketika melihat pemoedi-pemoeda yang mempunyai semangat, karena semangat mereka bisa kuserap dan mengalir ke seluruh tubuhku, ke alam pikiran dan dimensi alam hati.

Setelah melihat semua foto, ternyata tidak kutemukan satupun foto yang mempunyai korelasi yang begitu idealis dengan #SoempahPemoeda, yang sekiranya besok, besok dan besok tetap tidak akan bias seperti #SoempahPemoeda yang akan selalu terpatri di dalam Djiwa bagi #PemoediPemoeda yang telah memahami setiap nilai yang ada dan takkan terkikikis maupun bias. Ada satu hal yang tidak akan bias adalah lagu nasional #BangunPemoediPemoeda karya Alfred Simajuntak. Meski negara hari ini masih bias kepada mereka; para rakyat jelata, dan satu mentri oleh dunia internasional diberi prestasi tertinggi, sejalan dengan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS yang juga tinggi.

Aku masih belum putus asa untuk mencari foto yang akan kami posting di jagat maya untuk ikut satu frekuensi setidaknya kala memperingati #HariSoempahPemoeda. Lalu aku melihat foto bocah-bocah yang sedang bermain #MeriamBamboe, mengejutkanku dengan #Suara #MeriamBamboe kala sedang menikmati harmoni sepi. Lalu aku teringat, bahwasanya mata mereka berinteraksi kepada kedua mataku.

Kala itu setelah selesai kami bertiga melakukan wawancara ke salah satu Creative Studio untuk edisi cetak kami bulan Maret tahun 2017, kedua wanita tangguh yang tetap bisa bergerak dan berkarya meski setumpuk tugas kuliah ada di depan mata. Anggota #MATAMEDIA ingin langsung mengerjakan sholat setelah wawancara. Waktu itu sudah menunjukkan pukul 16.50 WIB. Singgah lah kami bertiga di salah satu universitas untuk sholat. Kampusnya asri dan besar dan sedang sepi hanya terlihat beberapa mahasiswa-mahasiwi hari itu, ada yang sedang bermain basket, ada yang sedang ngobrol diatas rerumputan hijau.

Aku kesana-kemari menghirup udara segar dari pepohonan, suara daun dari pepohonan yang diterpa angin seolah sedang berinteraksi satu sama lain dengan sesama daun. Aku takjub dengan suasana hening yang mengeluarkan harmoni sepi. Kuliah dikota bising dengan kendaraan roda dua dan roda empat yang membuat #JogjakartaBerhatiNyaman menjadi seperti hidup di #IbukotaJakarta, bising dan macet. Belum lagi suasana kampus baru tempat kuliah belum mempunyai pepohonan besar, bagiku pepohonan seperti sebuah menara yang dapat menetralisir kebisingan.

Di saat aku menikmati suasana hening dengan harmoni sepi dari daun-daun yang  yang menenangkan, mataku yang terpejam lalu terbelalak mendengar suara tembakan meriam tapi dengan skala lebih kecil. Aku langsung mencari asal suara tersebut asalnya dari mana. Kulangkahkan kaki dipandu indra pendengaranku yang mengikuti suara yang terdengar seperti meriam. Terdengar suara percakapan dari anak-anak kecil laki-laki dan perempuan. Aku menyapa mereka dengan senyuman. Aku semakin sumringah melihat bocah-bocah sedang  bermain #MeriamBamboe dengan kegembiaraan yang tidak dapat kuperkirakan, tapi tentu saja melebihi dari pada kegembiaan anak-anak kota yang bermain di handphone pintar mereka.

Aku langsung menuju mereka. Bercengkrama dengan mereka. Aku bercerita kepada mereka bahwasanya di zaman bocahku dulu aku bersama teman-teman membuat meriam dengan bamboe yang paling besar yang ada pada desa kami. Kami bergotong royong masuk ke hutan dan menebang bamboe yang paling besar, memotongnya sepanjang 1,5 m dan menjadikannya #MeriamBamboe paling besar. Rumahku berada di tengah antara talang dan bawah, sehingga bunyi ledakannya terdengar di desa talang dan desa bawah, bahkan sampai ke seberang desa yang dipisahkan oleh sungai. Sangking besarnya #MeriamBamboe kami sampai kaleng susu yang kami ibaratkan peluru dapat melaju dengan cukup kencang dan sejauh 25 M.

“Kakak tembakan ke siapa?” tanya salah satu bocah laki-laki.

“Kami tembakan ke rumah salah satu orang tua yang enggan tersenyum kepada kami. Lalu kami berempat laki-laki semua itu berjalan dengan sigap nan santai sembari #MeriamBamboe di angkat di punggung kedua temanku, sesekali kami tembakan #MeriamBamboe kami ke rumah orang tua yang penglihatannya tidak bersabat kepada kami, lalu berlari dengan militan menghampiri teman-teman yang lain yang sudah siap dengan #MeriamBamboe masing-masing. Lalu terjadilah sebuah perang suara #MeriamBamboe antar seberang desa yang dipisahkan oleh sungai, seakan-akan kami sedang berperang dengan pasukan Sekutu yang membawa orang-orang NICA kala menyerang Surabaya” jawabku sambil tersenyum.

“Siapa yang menang kak?” tanya adik perempuan berbaju merah.

“Tentu saja suara meriam kami yang paling kencang dan keras bahkan kaleng susu yang kami jadikan peluru hampir mengenai teman-teman kami yang yang di seberang sungai. Tentu saja yang sedang bermain kala itu hanya kami para laki-laki, teman-teman perempuan sebaya kami pada waktu itu biasanya sedang belajar dan membantu ibunya dirumah. Dan ketika matahari telah menghias langit Sumatra dengan warna merah kami pulang sembari mengajak teman kami yang berada di seberang sungai untuk besok tetap melakukan perang suara #MeriamBamboe, meski mereka kalah tetap tersenyum kepada kami dan menerima tantangan kami,” ceritaku kepada mereka.

Bocah laki-laki dan perempuan sumringah malu-malu mendengar kisah bocah ku dulu.

Lalu entah kenapa di tengah suasana hangat dan damai itu setiap mata bocah laki-laki berinteraksi kepada kedua mataku, berkata-kata kepadaku, “Kak jaga teman-teman perempuan kami ya sampai mendatang ya kak, kami gak mau melihat mereka lupa akan budayanya, lupa akan bangsanya, dan memilih kebudayaan asing dengan menari-nari memakai pakaian kurang bahan sampai kelihatan udel, memakai krim pemutih, dan mencintai oppa-oppa Korea.”

Aku pun menjawab dengan semangat, “Tenang saja adek-adekku meski tiap masing-masing generasi akan ada dan mengalami bias, akan ada orang-orang yang yang disiapkan oleh sang Semesta yang tidak akan mengalami bias, mungkin juga akan terlebih dahulu mereka akan bias, lalu oleh sang Semesta diarahkan kembali untuk jelas, menjaga apa yang perlu dijaga, memperkuat nan erat apa yang perlu diperkuat dan dipererat.”

Adik perempuan yang memakai baju merah gantian matanya berkata-kata kepadaku, “Kak tolong putus mata rantai mereka yang akan dibentuk dengan sedemikian rupa idealis tetapi pada kenyataannya idealis mereka dibentuk hanya untuk dikikis, lalu oleh yang membentuk mereka akan menarik mereka masuk ke siklus ke partai politik dan menjalankan politik praktis dan tujuan awal mereka dibentuk menjadi seorang idealis hanya bertujuan akhir menjadikan mereka seorang pragmatis.”

“Diantara 264 juta penduduk #IndonesiaRaya bahkan ketika kelak telah mencapai 300 juta djiwa sang Semesta akan mengirimkan #PemoediPemoeda dari tiap pulau yang ada pada #IndonesiaRaya yang terlahir dengan kesadaran yang tinggi, memiliki jiwa yang tangguh, tidak gampang mengeluh dan menyerah, idealis yang terpatri tak akan terkikis, meski diawal atau pun di usia muda hidup mereka akan dihempaskan kesana-kemari oleh kepelikan hidup, mereka akan mengalami remuk, lalu dari remuk itu mereka akan terbentuk menjadi sosok-sosok yang sebenarnya bentuk dari idealis,” jawabku dengan sumringah.

Kuarahkan pandanganku kepada langit senja Jogja yang berkilau kuning emas, sebelum berpisah dengan mereka aku mengajak untuk tos dengan kedua telapak tangan satu persatu dari mereka, sembari melangkahkan kaki mata kiriku mengedipkan satu kali ke arah mereka yang tersenyum sumringah kepadaku.

Di masjid kedua anggota #MATAMEDIA telah selesai sholat. Kami bertiga pun kembali melangkah ke kota Jogja yang semakin sesak oleh kendaraan roda dua dan roda empat. Hari itu kami semakin optimis akan apa yang akan kami lakukan dan akan terus berkarya sampai sang Semesta diatas kepala akan berkata-kata melalu kelap-kelip bintang di langit malam yang begitu cerah dengan warna biru, “Memang seperti itu masa muda yang seharusnya kalian jalankan.”

Ingatanku akan #MeriamBamboe yang membuat kami berempat penuh sumringah kala bocah tidak akan mengalami bias, termasuk apa yang sudah dilakukan oleh para Jong dari seluruh Nusantara untuk mardeka!

Penulis: *R★.V.★N*

Editor: *R★.V.★N*

Tinggalkan Balasan