Kisah Tiada Ujung #2

MATAMEDIA- RI.com – Indonesia adalah awal semua cerita di mulai. Indonesia adalah sebuah cerita yang tak pernah tuntas. Indonesia adalah satu hal semua dimulai. Sedikit membacanya membuat aku semakin merinding. Entah kalimat mana yang membuat diriku tercengang. Namun, setelah aku membuka dan memuali niat untuk membaca, seolah olah kalimatnya menjadikan satu cerita juga inspirasi yang tak pernah habis.

Di dalamnya juga banyak hal yang menceritakan tentang pahlawan, tanda dan jasa. Selain itu beberapa halamannya membuatku semakin tak kuasa untuk ingin selalu membuka halaman selanjutnya. Melihat beberapa kata juga kalimat di buku tersebut, aku jadi ingin segera menuntaskannya cepat cepat dan ingin tau ulasan serta makna apa saja yang terdapat di buku tersebut.

Sesekali aku membenahkan dan menggeser kursi untuk menciptakan ruang nyaman. Entah di siang itu suasana dapat sangat menolak kantuk, bahkan sedikit saja tidak ada. Anginnya begitu semilir, kerap kerap meniup mataku agar terus terbuka dan menuntaskan ceritanya.

Sinar mataharinya semakin menyorot di wajahku, aku tak sedikitpun merasakan pergerakan waktu siang itu. Yang jelas aku ingin tetap tinggal dan melanjutkan membaca. Sesekali aku tersenyum, entah siapa yang menciptakan buku ini. Jujur, aku sangat mengaguminya. Aku luluh lantah tak dapat memikirkan suatu hal apapun saat itu. aku tidak terlalu memperdulikan orang orang ataupun suasana di sekelilingku. Hingga suara teriakan berbunyi nyaring dan bernada keras.

“Mill milllllaa !!” teriak linda.

Aku hanya terdiam, semua tercengang hebat. Seisi ruangan tertawa tipis. Entah mereka menganggap aku tuna rungu atau sejenisnya aku tak peduli. Yang jelas dan yang aku inginkan hanya satu, aku harus menuntaskan ceritanya. Lantas aku mengajak si linda membaca bersamaku.

Pemandangan elok nan jarang terjadi pada siang itu juga telah terlihat. Bayangkan, kami berdua yang sangat tidak menyukai pelajaran sejarah kini jadi semakin kasmaran. Bukan hanya itu, kami berdua membacanya bersama. Karena, jika di lihat, sepertinya buku tersebut hanya ada satu di perpustakaan sebesar ini. Jadi ku putuskan, kami berdua membacanya bersama dan berusaha menelaah kaidah juga latar belakang apa buku tersebut di buat.

Demi apapun, aku dan linda jatuh cinta terhadap sebuah buku. Terlebih lagi bukan jatuh cinta pada barang mati tersebut. Memang benar hanya benda mati, akan tetapi di dalam sana selalu hidup. Mulai dari kata katanya, kalimat juga paragraf hingga halaman halamannya menyimpan ribuan kaidah. Bukan tentang asmara, cerita remaja, horor dan sejenisnya. ini lebih ke sebuah petualangan besar milik bangsa indonesia, dan tidak sangat jauh berbeda dengan mapel bahasa sejarah yang pernah aku benci sebelumnya.

Sejak saat itu aku bersama dengan sahabatku duduk berdua. Menghadap keluar jendela, menghembus nafas dalam dalam. Kami berdua tertawa terbahak, ada tanda tanya besar yang muncul di fikir kami. Mengapa kami berdua harus melakukan hal bodoh seperti ini. Kenapa pula harus membenci mapel sejarah tersebut. Padahal justru dari cerita atau mata pelajaran sejarah, seharusnya kami berdua tahu. Terutama diriku sendiri. Bahwa, semua hal yang ada di dunia ini pasti memiliki masa lalu juga cerita yang menarik di dalamnya. Tidak terlebih lagi menegenai sejarah bangsa Indonesia.

Padahal kami juga seharusnya tahu, masih sama di bulan itu, bulan agustus tepatnya. Satu minggu yang lalu, kita semua menjalankan upacara memperingati hari kemerdekaan. Sebagai anak bangsa yang baik dan biijaksana, seharusnya kami berdua tidak boleh seperti ini.

Di hari itu, aku dapat benar benar menyimpulkan. Bahwa, ada sesuatu yang tidak sangat berwujud, yang benar benar tersusun rapi dan sudah di siapkan untuk anak bangsa berikutnya. Tidak mahal, semua orang dapat membeli juga membacanya. Tidak juga membedakan sudut pandang, kasta dan sosial. Semua kalangan bisa saja mengerti. Bahwa kita, sebagai rakyat Indonesia, punya cerita atau kisah yang sebenarnya belum tuntas.

Jika kamu bertanya apa itu, aku dapat menjawab, bagaimana cara kamu menjaga amanah terbesar di bumi pertiwi ini. Tidak membutuhkan uang untuk tetap bertindak, hanya membutuhkan suatu niat dan tekad. Meninggalkan suatu hal yang tidak perlu di lakukan, dan kembali duduk dan mencari tau. Apa yang bisa kamu lakukan, untuk menuntaskan kisahnya. Seperti apa yang pernah di lakukan oleh para pahlawan selama berjuang. Bedanya, kamu hanya duduk, membaca, menelaah, dan berfikir besar atas bangsa ini.

 

(Lilis Setyowati)

Tinggalkan Balasan