Kisah Tiada Ujung #1

Udaranya panas, sesekali aku dan teman sebangkuku menyelehkan kepala diam diam. Entah karena apa di hari itu, cuaca, rasa, dan penat menjadi jadi. Apalagi dengan rasa kantuk. Aku menolak untuk bisa mengikuti pelajaran sejarah siang itu, tepatnya seusai jam pelajaran olahraga.

Tatkala aku perlahan menyelehkan kepala sejenak, tiba tiba guru kami menghampiri. Lantas aku terkagetkan dengan pukulan penghapus papan tulis di meja bangku kami berdua. Aku kaget dan beranjak bangun. Seperti biasa pula, aku dengan teman sebangkuku bergegas untuk keluar kelas. Kami berdua sudah terbiasa untuk ini. Ini sebabnya aku tidak menyukai guru mapel tersebut. Apalagi dengan mapel sejarahnya. Kami berdua selalu menyepelekan, apalagi dengan diriku.

Mapel sejarah adalah salah satu mapel yang paling ku benci, aku tidak menyukainya. Aku beranggapan bahwa kenapa harus bertemu dengan mapel tersebut. Padahal mapel tersebut juga tidak sangat penting, tidak juga di ikutkan mata pelajaran untuk Ujian Nasional. Aku tidak menyukainya, materinya banyak, begitu susah untuk di hafalkan. Jadi aku putuskan bahwa, aku sangat tidak menyukainya dalam hal ini. Akan tetapi ini adalah satu langkah aku cinta mati terhadap isi juga materi yang ada, termasuk kisah kisahnya, cerita juga perjuangan yang tak pernah habis sampai titik darah pengahbisan, kataku.

Siang itu aku bersama dengan teman sebangkuku bergegas menuju perpustakaan. Kami berdua sudah terbiasa untuk ini, apalagi dengan diriku. Aku dan teman ku itu punya banyak kesamaan. Kebetulan, dia adalah salah satu teman juga sahabat yang sudah sangat ku percaya sampai saat ini. Memang ada banyak macam teman di kelas, tapi untuk dia, aku bisa menyayanginya dengan tulus.

Suasananya hening, baunya khas. Yaitu aroma ribuan buku yang bersandaran rapi di tiap tiap raknya. Kami berdua langsung di sambut oleh ibu penjaga perpustakaan. “akhir akhir ini rajin membaca yaa, selamat datang Mila” ujar beliau. Aku tidak mengerti, nadanya sedikit mengejek, raut mukanya sedikit menyindirku. Tapi tak apa, menurutku beliau sangat ramah, aku menyukainya.

Aku selalu menghampiri rak rak novel, apalagi buku buku yang masih hangat setiap hari terlihat di sana. Linda, sahabatku tetap sama saja, ia sangat menyukai sastra, begitu pula dengan diriku. Akan tetapi, aku lebih menyukai lagi novel novel, mulai dari novel remaja sampai novel yang bahasanya sulit di mengerti.

Hari itu aku benar benar tidak mengerti, tepatnya di akhir bulan agustus. Aku sama sekali tidak menyukai novel. aku berjalan menelusuri rak rak yang lain. mataku tertuju pada satu rak buku tepat di sebelah jendela. Aku menghampirinya, sepertinya baru kali ini aku melihatnya mereka bersandar rapi disini. Tertata rapi, bersenderan dan masing masing berdiri kokoh. Aku melihat satu buku yang sangat tebal, aku penasaran, lalu aku mengambilnya. Ku lihat, buku tersebut berjudul pengabdian.

Aku mulai mencari tempat duduk. Tepat disudut ruangan tersebut, ada satu tempat duduk yang sangat ku segani setiap aku pergi kesana. Tempatnya, berhadapan dengan jendela, dari sini aku dapat melihat semuanya. Gedung gedung yang menjulang tinggi, pepohonan rindang dan satu lagi suasana khas yang paling ku suka. Di hadapan gunung juga gedung, terdapat sang merah putih yang selalu berkibar di hembus angin setiap waktu. Aku menyukai pemandangannya. Tepat di sudut lantai tiga gedung perpustakaan.

Aku mulai membuka perlahan buku tersebut. Kovernya sederhana, tidak ada unsur kemenarikkan di situ. Warnanya juga pucat klasik, hanya saja ada gambar kain merah putih yang terlihat sedang berkibar di angkasa. Aku makin penasaran, aku mulai membacanya perlahan. Kata katanya sedikit rumit untuk dipahami, aku tak berhenti di halaman awal buku tersebut. Aku melanjutkannya walaupun sedikitpun tidak tertarik untuk membaca.

Aku ingin cepat cepat menutup buku tersebut dan melanjutkan mencari beberapa novel yang lain. Mengingat pelajaran sejarah dan aku di keluarkan dari kelas, sebenarnya aku sedih. Setiap kalinya aku bersama sahabatku harus sengaja melakukan hal yang sama sekali tidak elok. Apalagi untuk menghindar pelajaran tersebut dan memilih membaca novel di perpustakaan sembari bersantai akibat letih setelah berolahraga.

Bukankah pecinta sejarah harusnya tahu, selagi ada banyak bacaan di sana. Padahal seharusnya, kami berdua sebagai pecinta sastra juga harus tidak henti hentinya membaca dan memperluas wawasan. Tapi entah dalam hal apa, aku tetap tidak menyukainya.

Tatkala aku hampir meghabiskan lembaran terakhir setelah aku melewati beberapa halaman yang hanya ku buka buka, aku di kejutkan oleh beberapa kata mutiara di lembar lembar akhir buku tersebut. Disana banyak tertulis mengenai kaidah kaidah bangsa Indonesia dan  tentang perjuangan. Kebetulan aku menyukai hal yang berkaitan dengan indonesia. Apalagi dengan sebuah petualangan besar.

Bersambung …

(Lilis Setyowati)
Editor: *R★.V.★N*

One Comment on “Kisah Tiada Ujung #1”

Tinggalkan Balasan