Kasih Ibu Sepanjang Masa

Wanita paruh baya, yang masih memiliki ribuan kekuatan dan kesabaran dalam mengurus semuanya. Ya, keluarga dan anak. Merupakan 2 hal yang tak pernah bisa terlepas dari dirinya. Senyumnya yang penuh dengan ketulusan, ketulusan yang begitu dalam, kasih sayang yang tak pernah bisa terhitung jumlahnya, serta kehangatan yang selalu menyelimutinya. Tegar adalah prinsip hidupnya. Tak kenal lelah ada dalam kamusnya. Malaikat tak bersayap sekaligus wanita terhebat di dunia yang kusebut “Ibu”.


MATAMEDIA-RI.com – “Ibu.. Ibu..Ibu..”

Nama yang tak pernah luput kusebut dalam sujudku menghadap-Nya. Begitupula ia yang selalu dalam sujudnya dan tangan menengadah yang tak pernah luput menyebut keluarga serta anak-anaknya yang diiringi hujan dipipinya mengucap pinta indah pada Sang Maha Kuasa. Dia dengan segala kekhawatirannnya namun kepercayaan yang ia jadikan kekuatan bagi anaknya.

“Siapa Ibu Bagimu?”

Pertanyaan konyol untuk sebagian orang, dan menjawab  dengan jawaban singkat “Ibu, orangtuaku”. Klise sekali.

Namun, bagiku dan bagi sebagian orang, sosok Ibu adalah indah yang tak ternilai, yang tak bisa dijumlahkan dengan angka berapapun hasilnya. Bahkan dalam agama Islam saja, Allah bersabda “Muliakan ibumu, karena surga berada di bawah telapak kaki ibu” yang berarti kita harus hormat dan patuh padanya jangan sampai menyakitinya. Begitu pula Kristen, Katolik, yang mencerminkan kasih sayang dan ketulusan seorang Ibu melalui Bunda Maria.

Wanita yang penuh dengan pengalaman pahit, asin, manisnya kehidupan dan pengorbanan dalam hidupnya. Mengandung 9 bulan lamanya, melahirkan yang rasa sakitya seperti dipatahkan 24 tulangnya, nyawa sebagai taruhanya, menyusui ASI eksklusif selama kurang lebih 6 bulan pertama, dan 18 bulan kemudian untuk memeberikan gizi bagi anaknya. Tak berhenti disitu, ia harus menjalankan amanat Tuhan, merawat titipan Tuhan, merawat dan membesarkan anak-anak nya hingga menjadi sosok dewasa yang siap mengarungi kehidupan. Tentu haruslah lebih baik darinya. Ibu, adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Tepat pukul 09.00 malam tak luput ia selalu menemaniku sebelum lelap menjemput. Menuju dunia fana, dengan sejuta kisah impian. Ia mengajaku bercerita, mengajarkanku keterbukaan, bercerita apa saja yang kualami, kemarin, kemarinya lagi, kemarinya lagi, dan waktu yang telah berlalu, atau kisahku hari ini. Dengan antusias aku bererita hari-hariku, impian ku di hari esok, ia akan menjelma menjadi pendengar setia tanpa membantah satu katapun dan cukup dengan memberikan respon membiarkan ku bercerita tentang duniaku. Kemudian, akan ditutup dengan 1 buah dongeng dariya, 1 buah nasihat yang ia tancapkan dalam diriku, dan 1 buah pelukan serta kecupan kening.

Psikologi atau psikiater mengatakan bahwa anak perempuan akan cenderung lebih terbuka pada Ibunya. Karena ibu memiliki naluri keibuan yang dengan rasa kasih sayang, kelembutan, ia bisa menjelma bak seorang teman, sahabat, kakak, orangttua. Namun, Ibu tetaplah Ibu dengan sejuta kekhawatiranya menjelma menjadi sang percaya untuk memberikan kekuatan dan pengaruf positif bagi anak-anaknya.

Kala itu, sabtu malam pukul 07.15 aku mengalami kecelakaan di daerah Jakal, Yogyakarta. Tak begitu parah memang, namun kecelakan itu berhasil membuat tubuhku kesakitan dan timbul rasa trauma. Vario putih 150 yang melaju dengan kecepatan 40km/jam seketika terguling menjatuhkan si pengendara, bak kuda yang lelah merebahkan tubuhnya. Ya, kejadian yang berlangsung singkat dan tak terduga karena Avanza hitam dengan keangkuhan namun memancarkan warna yang elegan tiba-tiba memberhentikan dirinya tanpa memasang lamu hazard sepagai penanda. Hingga memberikan imbas bagi kendaraan di belakangnya.

Aku gadis berkacamata, yang baru memulai perantauan di kota istimewanya Indonesia dengan kestetikanya yang sedang mengemban pendidikan. Kala itu aku menuju tempat teman seperantauan untuk menjemputnya, menghadiri rapat untuk agenda kegiatan yang diadakan di kampong halaman. Aku yang saat itu masih gemetar hebat dan syok memberi kabar pada temanku. Seketika ia cepat bergegas menuju lokasi, serta membawa 2 orang teman laki-lakiku. Mereka yang membantu mengurus semuanya, segala persoalan yang terjadi, dan melarikanku ke Rumah Sakit terdekat untuk menjalani segala pemeriksaan.

Syukurlah, tak ada luka serius, hanya menimbulkan rasa trauma dan cidera di pergelangan pundak karena menghantam aspal yang 0,00% empuk, serta pergelangan kaki keseleo. Dan keesokan harinya menjalani perawat akrupresure untuk mengembalikan urat dan sendi yang cidera. Setelahnya, aku memberikan kabar pada keluargaku, namun aku tak bisa membendung air mataku. Ku yakinkan pada mereka bahwa aku baik-baik saja. Ayah dan Ibu yang pada saat itu ingin segera bergegas, namun ku cegah, aku tetap kukuh meyakinkan pada mereka bahwa aku baik-baik saja. Beruntunglah aku  memiliki teman yang begitu peduli, namun tetap saja aku merepotkan mereka.

Seminggu kemudian, sabtu sore puku 14.30 WIB aku yang saat itu sedang melaksanakan pratikum dilarikan ke rumah  sakit terdekat. Karena jatuh pingsan dan mengalami sesak nafas. Saat itu stok oksigen di ruang kesehatan habis, sehingga diharuskan dilarikan ke rumah sakit untuk segera mendapat pertolongan melalui tangan manusia  yang dikaruniai mukzizat oleh Tuhan, berseragam putih, dengan stetoskop yang menggantung dilehernya. Dengan sigap ia memberikan pertolongan pertama. Setelah menjalani segala pemeriksaan dan perawatan, sekitar pukul 21.00 aku siuman tersadar dari lelap hingga memunculkan drama pada orang orang disekitarku.

Hadphone berdering, menandakan telfon masuk. Sudah kuduga, ayah dan ibuku rupanya. “Assalmualaikum ayah, Ibu” dengan suara rintih. ‘‘waalaikumssalam, nduk”. Jawab mereka yang dibanjiri oleh  kekhawatiran. Nduk adalah panggilan untuk anak perempuan dalam bahsa Jawa. Percakapan kami tak berlangsung lama, karena dokter menganjurkan untuk istrahat kembali, karena aku belum pulih betul.

Ahh…!! Segala kejadian ini sungguh membuat tenaga ku terkuras, pusing. Ujian apalagi ini Tuhan. Mungkin Ia memberika ujian untuk menjadikanku lebih tegar dan mengmbil hikmah setelahnya. Ada rasa bersalah dalam diriku. Masih saja membuat orangtua khawatir bukan kepalang. Sekitar 2 minggu terakhir ini kuliah ku memang sangat padat, dan setumpuk tugas yang deadlinenya sangat singkat. Sehingga mngharuskanku berfikir dan bekerja lebih keras dengan kondisi makan dan tidur yang tak teratur. Inginku sembunyikan saja keadaanku agar tak membuat cemas mereka, namun Tuhan berkehendak lain. Mereka adalah keluargaku, dan ia juga perlu tahu keadaanku. Saat aku dilarikan ke Rumah Sakit, ternyata teman-temanku telah memberi kabar pada mereka.

“Nduk, piye? Apa sudah enakan?”, “Ayah dinas, biar Ibu yang kesana ya?”, dihujani pertanyaan kekhawatiran, cukup membuatku memutar otak untuk meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja. Tak ingin lagi ku bebani mereka dengan rasa khawatir. Berat rasanya aku menjawab, suaraku berat, air mtaku menetes perlahan. “Aku tidak apa-apa bu, yah” . Jawabku dengan  suara parau. Walau kalimat sebernanya yang ingin ku ucap adalah “Ayah, Ibu. Aku lelah, aku butuh pelukan kalian, kehadiran kalian”. Serambi ku meneteskan air mata yang tak bisa kubendung lagi. Namun tetap saja aku hanya bisa menjawab “Jangan khawatir Bu, aku tidak apa-apa. Toh lagipula, ada teman-teman yang membatuku” untuk meredam kekhawatiran mereka. Ingin sekali mereka segera bergegas namun ku cegah.

Aku adalah bayi yang lahir dari rahimnya, tak bisa mencegah seberapa besar ke khawatiranya. Naluri ibu, lebih kuat. Hingga senin pagi ia menelfon mengabarkan bahwa ia sebentar lagi akan sampai, ia sudah di solo. Cukup memakan waktu 1 jam untuk sampai di Yogyakarta. Ia tak memberitahu keberangkatanya, karena pasti akan ku cegah. Lagi dan lagi,  lidah  kelu dan air mata membahasi pipiku. Sebegitu besar rasa cinta dan kekhawatiran ibu pada aanaknya. Ayahku sedang dinas, sehingga sulit baginya untuk mengurus surat ijin jikalau harus berangkat ke Jogja. Ibu, yang saat itu ingin menemui, melihat putri satu-satunya yang baru saja terkapar di rumah sakit. Kedua kakak laki-laki ku tak henti bergantian menelfon untuk memantau keadaanku. Ya, bisa dibilang aku seorang princess dalam keluargaku . Aku yang dengan segala keceriaanku, namun tak pernah bisa menyembunyikan sifat manja ku didepan mereka.

Saat itu, senin pagi aku sudah dibolehkan rawat jalan oleh dokter. Terimakasih telah memberbolehkanku kembali ke Istana Perantauan. Begitulah aku menyebut kos ku. Sekitar pukul 08.00 Pagi Ibu sampai. Seketika ia mendekapku dengan rasa yang berkecambuk. Rasa rindu, bercampur khawatir yang tak bisa dijelaskan oleh aksara. “Maafkan aku Buu, sudah di perantauan masih saja merepotkan dan menghawatirkanmu”. Tak bisa ku bendung lagi, deras mengaliri pipi. Dekapnya semakin erat. Mengecup keningku dengan hujan di pipinya. Tak bisa ku katakan bahwa aku sangat merindukanya, merindukan pelukanya, senyumnya, belaian tanganya yang biasa mengusapku, perhatiannya, masakanya, bahkan omelannya. Lidahku tercekat, keluh rasanya.

Aku memutuskan untuk tidak menjalani perkuliahan beberapa hari, saran dari dokter. Dan juga, aku ingin menikmati waktu bersama Ibuku. Sop kari kakap merah, adalah kesukaanku. Disuapinya aku dngan kasih, Its Magic!!. Menurutku cukup kehadiran, pelukan, dan masakan Ibu adalah obat yang mujarab. Fasilitas kos memang legkap, jadi ibu bisa memasakkan kesukaanku. Beberapa hari ia tinggal untuk merawa ku. Ayahku terkadang vidiocall lebih dari 3x sehari, ia melepas kerinduan terhadap 2 wanita yag dicintainya, sang permaisuri dan tuan  putri. Begitulah ia menyebutnya. Kehadiran ibu membuat hangat jiwaku, Magic bukan. Aku sangatlah mengidolakan ibuku. Bahkan saat kecil aku ingin menjadi sosok wanita seperti Ibu. Menjunjung tinggi harkat wanita, menjadi wanita tegar, kokoh, yang kuat iman dan prinsip. Bukan menjadi kokoh yang keras kepala. Tidak hanya menjadi wanita yang berdedikasi tetapi juga menjadi wanita yang memiliki sisi kelembutan dan ketulusan kasih sayang, membawa kebahagiaan dan kenyamanan orang disekelilingnya.

Ibu adalah malaikat tak bersayap. Ibu adalah indah yang tak ternilai. Kasih Ibu sepanjang masa. Dibalik kelembutanya, tersimpan sebuah kasih sayang yang seringkali menjelma dalam bentuk air mata. Dibalik lemahnya, Tuhan selipkan kekuatan dalam untuk menampung sebuah nyawa. Dibalik kesedihanya, akan ada sebuah topeng yang ia gunakan dalam bentuk tawa. Percayalah, Ibu merupakan sosok wanita setegar baja. Sebab manusia hebat, wanita mulia dan laki-laki terkuatpun lahir dari rahimnya.  Bentakan  bahkan kata kasarmu membantahkan, sungguh itu akan menyayat hatinya. Maafkan kami anak yang tak tau rasa hormat dan masih saja merepotkan mu Bu.

“Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa”

Aku, kau, kita, dan mereka menyayangi ibu. Tak prlu menunggu hari ibu untuk mengucapkan “I love you Buuu”. Setiap hari adalah hari ibu, sayangailah ibu, hargailah setiap  pengorbanan dan perjuanganya membesarkanmu. Bersyukurlah kalian yang mash ditemani ibu di dunia.

Selamt Hari Wanita Terhebat, Selamat Hari Ibu 🙂

Ditulis Waktu Indonesia Bahagia, Yogyakarta 22 Deember 2018

Penulis: Anisahnesyah

Editor: *R★.V.★N*

 

Tinggalkan Balasan