Jejak Kerang

MATAMEDIA-RI.com

Ujung tepi pantai kian sepi, berhembus angin berhilir mudik menusuk hingga dalam hati. Hamparan pasir membentang luas berwarna putih. Memeluk pantai adalah impian sosok perempuan bernama Rinda. Bagi Rinda pantai ialah tempat terindah penghilang penat dan kerinduan pada sesorang yang disayanginya. Liburan kali ini ia memutuskan pergi ke pantai lagi. Pantai yang ia kunjungi tahun ini adalah Pantai Pok Tunggal Yogyakarta. Tahun lalu ia pergi ke Pantai Kuta Bali, bersama dengan satu temannya. Saat berlibur dengan temannya yang bernama Sandra, ia merasa bahagia karena tidak sendirian. Mereka berdua menghabiskan waktu liburan bersama pantai yang berhadapan langsung dengan penginapan mereka. Sandra adalah sahabat Rinda sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Luar dalam Rinda semua diketahui oleh Sandra, sebaliknya dengan Rinda yang telah menganggap Sandra bukan sekedar sahabar namun sebagai saudara perempuannya.

“Lihat, disana ada anak kecil tuh, lucu banget. Datengin yuk..,” seru Sandra.

“Yuk, eh.. bentar sandal ku mau putus. Kamu lari duluan aja kesana, nanti aku nyusul ya,” sahut Rinda.

Sandra berlari menuju anak kecil yang ia lihat sedang sendiri sambil membawa topi bulat berwarna hijau dengan motif daun kelapa. “Hai adikku, sedang apa kamu disini sendirian? Mama sama papa, kemana hayo? Yuk kita main di kursi putih itu. Kakak punya permen cokelat loh,” bujuk Sandra untuk mengajak bermain anak kecil tak dikenalnya itu. Rinda pun sampai setelah anak kecil itu pergi diajak papa nya untuk beristirahat.

“Yah.. kok adiknya mau pergi? Mau kemana, halo aku Kak Rinda cantik. Adik ganteng mau kemana?” tangan Rinda yang memegang tangan anak kecil itu.

“Iya tante, dik Umar mau tidur siang dulu. Nanti malam baru main lagi,” jawab papa dari anak laki-laki yang berumur sekitar 3 tahun.

Sandra dan Rinda memutuskan untuk kembali berjalan berdua dengan sunyi. Rinda yang masih sedih karena tidak bisa bermain dengan anak yang ditemuinya tadi. Di perjalanan menuju penginapan, Sandra meninggalkan Rinda sendirian di salah satu tempat makan.

Rinda mulai melangkahkan jari kakinya ke depan menuju kerang unik di pesisir pantai. Diambil kerang berwarna keemasan itu oleh Rinda. Saat dipegang, kerang tersebut menyilaukan mata Rinda. Merasa kaget, kerang tersebut dilemparnya ke arah belakang. Tak menyangka kerang emas itu mengenai seorang lelaki yang tidak dikenal Rinda. “Aduh, apa ini? Woy siapa yang lempar kerang ke dahi gue? Sakit nih,” teriak lelaki itu pada pantai. Rinda pun terdiam tak menengok ke belakang, ia belum tau pasti apakah benar kerang yang dilemparnya mengenai lelaki tinggi dan berkulit putih.

“Permisi, sedang apa anda di pesisir pantai sendirian di sore hari ini?,” ujar lelaki dengan lembut pada Rinda. Apa benar, ia sedang berbicara denganku. Aku diam tak berkutik saat lelaki misterius itu bertanya padanya.

Rinda pergi begitu saja, saat lelaki tak dikenalnya bertanya padanya. Sampai di salah satu kamar milik Rinda. Yang bisa disebut juga sebuah penginapan kecil berbahan kayu berwarna coklat kehitaman. Terdengar suara aneh yang membuat Rinda penasaran, suara yang berasal dari arah jendela berbentuk lingkaran dengan gorden motif batik. Langkah kecil Rinda memberanikan diri untuk mendekat ke sumber suara. “Siapa kamu? Sedang apa kamu disana?,” teriak Rinda. Wajah Rinda mulai memerah, karena ada seorang lelaki yang ditemuinya di pantai tadi, menyasar sampai ke penginapannya. “Maaf, di luar hujan. Penginapan ku masih jauh dari penginapanmu. Bisakah aku meneduh sebentar di depan kamarmu? Aku janji tidak akan mengganggumu. Aku hanya perlu tempat berteduh. Sekarang aku hanya tinggal minta ijin darimu,” jelas lelaki tersebut.

Lagi-lagi Rinda hanya terdiam dan meninggalkan lelaki itu sendirian di depan kamar penginapannya. “Kenapa dia bisa tau kalau ini kamarku, gimana kalau dia sampai kedinginan dan jatuh sakit karena kehujanan?” ucap Rinda dalam batin dengan penuh kebingungan dan kekhawatiran.

Hujan mulai reda, suasana menjadi kembali hening. Suara sambaran petir telah hilang.

“Misi, terima kasih atas tempat teduhan yang sempurna bagiku untuk menunggu redanya hujan. Aku berhutang padamu!” ujar lelaki itu. Kelvin merasa aneh dengan tingkah laku perempuan yang ditemuinya.

“Apa dia memiliki kekurangan pendengaran? Tapi walau seperti itu dia tetap manis. Ahhh… Ngacok nih, baru aja ketemu dah bayangin dia terus. Gak beres,” ucap Kelvin.

Kala surya mulai bersinar menerangi ruang penginapan Rinda. Terbangunlah Rinda, dan memulai harinya untuk keluar mencari sarapan. Rinda sangat menyukai makanan udang. Setiap makanan apa saja yang terbuat dari udang ia sangat suka. “Pak, saya pesan sup udangnya satu ya pak,” pesan Rinda ke salah satu pelayan.

Mata Rinda tertuju pada satu kilauan yang menyilaukan matanya kembali. Tampak jelas, bahwa benda yang menyilaukan matanya adalah kerang emas yang kemarin ini ia buang dan terkena lelaki yang meneduh di depan kamar penginapannya.

“Kerang itu lagi? Apa disini memang banyak kerang seperti ini. Silau mataku, udahlah daripada aku buang mending aku simpen aja nih kerang. Lagipula kerang ini cukup bagus,” batin Rinda.

“Permisi, kamu yang kemarin menginap di kamar penginapan Pura Jaya? Maaf kemarin aku menemukan kerang emas ini di depan kamarmu. Aku kembalikan padamu,” ujar Kelvin.

Rinda pun membantah, bahwa kerang itu bukan milik Rinda dan menyuruh lelaki itu pergi dari hadapannya. Namun, Kelvin justru memperkenalkan diri pada Rinda.

“Hai, baiklah aku akan pergi. Kenalin namaku Kelvin aku disini untuk melakukan riset mengenai kebersihan di sekitar pantai disini,”.

“Hai Kelvin, kamu disini ternyata ada proyek kerja ya? Maaf, aku kadang suka sensitif sama orang yang belum aku kenal. Namaku Rinda, aku disini hanya sekedar liburan”

Sejak mereka berdua berkenalan, mereka menghabiskan waktu untuk sharing bersama, tak lupa kerang emas yang masih ada disaku masing-masing. Hubungan yang semakin terjalin akrab membuat mereka saling memberikan perhatian satu sama lain. Hingga akhirnya Rinda harus kembali untuk menyelesaikan kuliahnya dan berpisah dengan Kelvin. Sebuah pertemuan pasti ada perpisahan, tetapi berbeda dengan Rinda dan Kelvin. Mereka menukar kerang yang mereka temukan secara tidak sengaja dan menyimpan kerang itu. Menjadikan kerang emas itu menjadi sebuah kalung indah yang melingkar di leher mereka. Rinda dan Kelvin percaya bahwa suatu saat nanti keindahan kerang emas tersebut sendirilah yang akan mempersatukan mereka kembali.

“Terima kasih kerang, kini kami akan mengikuti jejakmu,” ucapan yang dilontarkan Rinda dan Kelvin sebelum mereka berdua berpisah.

Penulis: Cicilia Rosa

Tinggalkan Balasan