HILANG

Kehilangan, satu kata yang menjadi momok menakutkan untuk semua orang, terutama mereka yang tengah mencinta, dan rasanya sakit ketika kita menyadari jika kita membutuhkannya. Keterlambatan, satu kata yang akan disesali seumur hidup, dan rasanya sakit ketika kita menyadari kecerobohan kita. Cinta, kata penuh makna yang membuat semua orang tersiksa karenanya. Lalu kau harus tahu bagaimana rasanya baru mengetahui jika kau jatuh cinta ketika gadis itu telah pergi untuk selamanya.


MATAMEDIA-RI.com

Pagi ini seperti biasanya, aku akan pergi ke kampus, bukan untuk kuliah namun untuk menemui teman-temanku yang tengah mempersiapkan ospek untuk mahasiswa baru. Walaupun aku hanya berstatus pengawas, namun aku cukup senang jika aku dapat mengikuti seluruh acaranya dari mulai persiapan hingga nanti ketika kita sama-sama berteriak sukses. Aku memang menikmati seluruh rangkaian acaranya mulai dari mencari barang-barang yang dibutuhkan, menyusun acara, bahkan hingga beberapa uji coba dilakukan.

Seperti biasanya juga, aku akan langsung menuju ke basecamp panitia dan meletakkan barang-barangku disana. Pagi itu aku sudah disambut oleh cerewetnya sahabatku, Nana. Gadis imut berwajah bak anak smp yang sudah menjadi sahabatku selama setahun terakhir. Gadis itu menyapaku dengan binar matanya yang membuat senyumannya menjadi lebih manis dari biasanya, dia terlihat sedang bahagia pagi ini.

“Pas banget, kamu datang pas kita mau cari makan, mau ikut?” ajaknya kepadaku.

“Ok, tunggu sebentar aku naruh tasku dulu.”

Begitulah rutinitasku kemudian dipenuhi tentang dia. Benar dia tengah bahagia saat ini. Aku bingung kenapa dia terlihat berbeda dari biasanya. Wajahnya terlihat sangat cerah, tidak seperti biasanya dia terlihat sedikit pucat. Penasaran, entah mengapa aku ingin tahu alasan sebenarnya kenapa dia begitu bahagia. Walau terkadang dia cerewet dan menyebalkan, namun bagiku, hariku bisa menjadi sepi tanpanya.

Malam itu aku mulai menginap di basecamp dan tidak kembali pulang. Kulihat gadis itu masih sibuk menghitung dan mengecek beberapa barang. Dia terlihat mulai lusuh dan kelelahan, kudekati dia, kurebut kertas yang ada ditangannya dan kuajak dia pulang secara paksa, “Sudah jam 10 malam, ayo pulang dan istirahat,” kataku.

“Antar dia pulang,” kata seorang teman kami.

Aku kemudian pergi untuk mengantar dia pulang. Aku memang mengantarnya hingga ke halaman rumahnya, tetapi masih berat bagiku untuk melepaskan dirinya, entahlah tapi berat saja rasanya. Tak seperti biasanya aku merasa seperti aku harus kehilangan dia dalam waktu dekat.

Satu lagi hari bersamanya, satu lagi kenangan yang terukir tanpa sadar didalam hatiku. Hatiku mulai bingung kini, walaupun aku sedang menyukai seorang gadis, namun entah mengapa aku selalu memikirkan tentang Nana, dan aku akui hidupku terasa sepi jika tanpanya. Kini aku menjadi orang yang selalu menantikan hari esok dimana dia akan datang ke basecamp dan mewarnainya dengan senyum dan tawa darinya.

Hari ini, ketika aku sedang bertugas, aku meminta tolong kepada Nana untuk membelikanku sesuatu untuk kumakan, namun di satu sisi gadis yang saat ini tengah mencuri hatiku, bernama Farra membawakan makan untukku dan ini membuat hatiku bergitu bahagia dan berbunga-bunga. Sekembalinya Nana, aku langsung berlari mendekatinya dan meminta maaf lalu pergi menemui Farra. Tanpa perasaan bersalah aku melewati Nana yang kini kutahu mulai kehilangan senyum aku terlalu fokus pada Farra waktu itu jadi aku tidak memperhatikan dirinya.

Dia masih tetap memaksa untuk tersenyum, tapi aku tahu senyum itu berbeda. Bodohnya aku adalah aku tak menyadari perbedaan itu karena rasa senang mendominasiku. Malam harinya kulihat dia duduk termenung sendiri. Seusai menyelesaikan tugasku, aku datang menemuinya yang kutahu dirinya sedang tak enak badan. Terlihat jelas dari wajahnya yang pucat dan lesu waktu itu. Kuajak dia makan, namun sekali lagi aku melakukan kesalahan dimana aku mengajak Farra yang saat itu berada tak jauh dari kami untuk makan bersamaku dan Nana.

“Jika kau bersama dengan Farra, kumohon jangan ajak aku dan biarkan aku tidak tahu,” katanya sembari berlalu pergi tanpa menatap padaku.

Dia marah padaku. Yang kutahu saat ini dia tengah menangis tanpa kutahu pasti apa sebabnya. Aku hanya bisa mengutuk diriku sendiri jika mengingat tentangnya, bagaimana aku memperlakukannya dengan tidak baik, bagaimana aku tidak mengetahui perasaannya yang tulus kepadaku. Dalam hatiku kini hanya ada penyesalan. Aku menyesal, memang aku menyesal.

Saat itu adalah hari terakhir ospek. Dia akan tampil dengan grup dancenya diatas panggung sebagai guest star. Dia memintaku untuk menonton kala itu, tetapi sayang aku tertidur dan aku lagi dan lagi melupakan janji dengannya. Sore harinya, aku harus pergi ke forum yang lainnya, meninggalkan evaluasi ospek hari itu. Sebelum aku pergi kulihat Nana sudah sangat kelelahan. Dia tak bertenaga bahkan untuk sekedar berjalan. Terus terpikir dikepalaku kata-katanya kala itu, “Apakah aku harus terkapar dulu, baru kau mau melihat kearahku?” kata-kata itulah yang seakan menamparku saat ini. Entah mengapa, tapi dengan secepat kilat aku tinggalkan forum itu dan kembali pergi ke kampus untuk menemui Nana.

Sesampainya disana, aku tak menemukan Nana di basecamp, hingga akhirnya ada yang memberitahuku jika saat itu Nana tengah tak sadarkan diri di UKS. Tepat setelah aku datang, sebuah ambulance datang dan membawa Nana pergi. Sakit, hati ini sakit, sesak ku melihat Nana yang tak sadarkan diri dengan wajah yang pucat pasi. Langsung aku kembali menyambar motorku dan mengikuti laju ambulance itu hingga sampai di rumah sakit terdekat. Disana hanya ada aku dan 2 orang teman kami yang menemaninya.

“Penyakitnya kembali kambuh, untuk saat ini kita hanya bisa berdoa, semoga dia akan baik-baik saja,” kata dokter pada kami bertiga.

Aku seketika mengingatnya, ketika Nana kaget hingga hampir pingsan karena ulah teman kami yang mengagetinya dengan ular karet. Saat itu bahkan Nana tak mampu berjalan dan hanya duduk.Saat itulah aku akhirnya tahu jika Nana mengidap penyakit jantung yang dapat mengambil nyawanya kapan pun. Pikiranku semakin kalut, terlebih ketika aku kini melihat Nana pulas tak sadarkan diri dengan selang oksigen dan alat rekam jantung menempel di tubuhnya. Dia hanya diam dan diam, dia bahkan tidak tersenyum ketika aku datang, dia berubah. Dia kini hanya diam, setia dengan tidur panjangnya tanpa memperdulikan diriku.

Bangunlah, Na. Aku merindukanmu, aku merindukan senyummu, aku merindukan cerewetmu, aku merindukan tangisanmu. Segalanya, Na…, aku merindukan segalanya tentangmu. Aku ingin sekali lagi mengulang apa yang kita telah alami bersama, aku ingin menghapus kesalahanku, Na. Jika kau siuman nanti, ijinkanlah aku untuk membahagiakanmu, aku kini sadar jika yang ada dalam hatiku adalah dirimu, ya dirimu Na, hanya kau seorang tak ada yang lain. Bukan Farra bukan juga yang lainnya. Hanya kau, Na…, hanya dirimu yang ada disini.

Kumohon berjanjilah padaku jika kau akan kembali, berjanjilah kau akan tersenyum lagi. Ketika kau sudah kembali tersenyum, berjanjilah untuk tidak pergi dari sisiku. Berjanjilah kau akan selalu ada untukku. Aku takkan mampu hidup tanpamu, bahkan membayangkannya saja sudah membuatku ketakutan. Aku takut kehilangan dirimu, aku takut jauh darimu. Maaf, maafkan aku jika selama ini aku hanya bisa menyulitkanmu, mengecewakanmu, menyakitimu. Kumohon kembalilah….

Malam itu aku menemaninya di rumah sakit tak sampai hati aku meninggalkannya. Disini sudah ada orang tuanya, namun perasaan bersalahku membuatku tak mampu meninggalkannya. Kondisinya terus memburuk malam itu membuatku semakin ketakutan. Pada akhirnya, matahari menyingsing dan bersamaan dengan itu aku kehilanganmu, untuk selamanya. Aku kehilangan dirimu, aku kehilangan senyumanmu, aku kehilangan semua tentangmu yang selalu membuatku merindu. Kau jahat, Na…, kau adalah gadis paling jahat yang pernah aku kenal. Kau selalu memberiku segalanya, tapi kau tak pernah memberiku kesempatan untuk bisa bahagia bersamamu. Kau membuatku dihantui akan dirimu.

Kau tahu? Aku ingin sekali melupakamu, melupakan kau yang sudah begitu jahat padaku. Setelah kau membuatku nyaman denganku, setelah kau membuatku mencintaimu dalam diam, dan setelah kau menyadarkanku bahwa aku memang menbutuhkanmu, setelah semua yang sudah kau berikan padaku kau pergi begitu saja meninggalkannku bahkan tanpa jejak kau pergi, bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata padaku. Hanya kau yang ada di hatiku, aku jamin hanya kau yang pantas menjadi milikku. Aku janji, walaupun kau sudah tiada kini, akan tetap ada ruang untukmu dihatiku, dilubuk hatiku yang terdalam sebagai gadisku, sebagai satu-satunya milikku, aku janji….

 

One Comment on “HILANG”

Tinggalkan Balasan