Hari Pendidikan Nasional dan KAPITALISME PENDIDIKAN NASIONAL

YOGYAKARTA, MATAMEDIA-RI.com – Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa Ki Hadjar Dewantara bukan saja merupakan salah satu perintis dunia pendidikan di Indonesia, tetapi juga salah satu orang perintis dunia jurnalistik Indonesia. Di masa mudanya, beliau menjadi aktivis organisasi Insulinde, Sjarekat Islam, Boedi Oetomo, Indische Partij, serta politisi dan pendiri Pergoeroean Nasional Tamansiswa.

Semboyan Ki Hadjar Dewantara, tutwuri handayani, sampai saat ini menjadi slogan Kementrian Pendidikan Nasional dan tercantum dalam lambang pendidikan Indonesia. Ki Hadjar Dewantara sebagai penggerak dan pendidikan bangsa merumuskankan mengenai seperti apa sesosok seorang guru dengan petuah-petuah dalam bahasa sansekerta. Bagi beliau, Guru/Pendidik bukan sekedar mengajarkan keilmuan tertentu, tapi dia juga harus dapat menjadi instrument perekat nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, nilai religiusitas dan spritualitas. Selain itu juga guru harus menjadi tauladan bagi siswa, menjadi orang tua yang selalu membimbing anaknya, menjadi problem solver dalam setiap sumbatan pengetahuan dan wacana bagi orang-orang di lingkungan sekitanya. Nilai esensial yang harus tertanam pada seorang guru/pendidik sebagai sokoguru pendidikan di Indonesia adalah berfikir, berdzikir, beramal sholeh, serta mengabdi kepada masyarakat.

Ki Hadjar Dewantara adalah peletak dasar pendidikan Nasional, Ada banyak sekali poin-poin penting dari pemikiran beliau seperti: dalam pendidikan harus dapat memerdekakan, artinya berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain dan dapat mengatur dirinya sendiri.

HARDIKNAS: APA yang di maksud dengan KAPITALISME PENDIDIKAN? Apakah nyata di depan mata?

Ki Hadjar Dewantara pernah menuliskan “Sastra Herdjendrajuningrat Pangruwating Dyu (ilmu yang luhur akan menyelamatkan dunia serta melenyapkan kebiadaban)” yang jika kita sarikan berarti: Ilmu yang mengandung nilai-nilai luhur akan dapat membimbing manusia keluar dari kegelapan hawa nafsunya / niat jahat, menghindarkan manusia dari tipu daya, dan membimbing manusia untuk memanfaatkan potensi dirinya bagi tujuan yang luhur bagi bangsa dan negara.

Bulan Mei ini Rubrik APA? Berisi 2 pertanyaan seputar dunia pendidikan. Pertanyaan pertama adalah APA yang di maksud dengan KAPITALISME PENDIDIKAN? Apakah nyata di depan mata?

Berikut 5 jawaban dari HMI komisariat Ahmad Dahlan:

Kapitalisme pendidikan adalah paham dimana pemodal atau perorangan yang menguasai pendidikan di sektor swasta yang ada di nusantara ini pendidikan dijadikan bisnis oleh para pemodal

Sangat nyata khususnya melihat dari kampus2 swasta yang ada di nusantara ini para orang-orang yang menjadikan pendidikan sebagai ajang bisnis untuk mereka menanamkan saham mereka dan kemudian untuk mendapatkan keuntungan sehingga fakta bukan fiktif kalau pendidikan swasta di nusantara sangat mahal karena para perorangan atau pemodallah yg menguasainya untuk merauk keuntungan yg sangat besar

Andi Irgi, HMI komisariat Ahmad Dahlan.

*

Kapitalisme pendidikan merupakan arah pendidikan yang dibuat sedemikian rupa sehingga pendidikan menjadi pabrik tenaga kerja yang cocok untuk tujuan kapitalis tersebut. Dalam hal ini, kita dihadapkan pada pilihan antara pendidikan kompetisi ekonomi yang mencari kemenangan diri dan pendidikan keadilan sosial yang menjamin kemandirian. Pendidikan ekonomi yang mencari kemenangan diri, akan menciptakan korban yakni mereka yang kalah berkompetensi, tetapi disisi lain tetap membuahkan keuntungan fiinansial bagi yang menang. Sementara, pendidikan keadilan sosial yang menjamin kemandirian akan menuntut biaya yang tidak tentu membuahkan bunga uang atau keuntungan finansial langsung, namun akan lebih mengangkat banyak orang yang mampu menentukan dirinya sendiri. Dimana dalam hal ini terdapat dua pilihan yakni;

  1. Pendidikan elitis yang meminggirkan yang miskin dan tak produktif,
  2. Pendidikan yang membebaskan, memberdayakan semua orang menurut bakat dan keterbatasannya sehingga menjadi orang realis dan kreatif.

Manusia yang dihasilkan oleh ideologi kapitalisme adalah manusia yang dalam pikiran dan perhatian selalu dikerubungi oleh pencarian strategi untuk menghasilkan keuntungan diri sendiri yang sebesar-besarnya.

Ya, kapitalisme pendidikan telah melahirkan mental yang jauh dari cita-cita pendidikan sebagai praktik pembebasan dan agenda pembudayaan. Dengan hal itu, sekolah saat ini tidak mengembangkan semangat belajar yang sebenarnya. Sekolah tidak menanamkan kecintaan pada ilmu atau mengajarkan keadilan, anti korupsi, atau anti penindasan. Sekolah lebih menekankan pengajaran menurut kurikulum yang telah di paket demi memperoleh sertifikat selembar bukti untuk mendapatkan legitimasi bagi individu untuk memainkan perannya dalam pasar kerja yang tersedia. Ada beberapa dampak yang dapat ditimbulkan akibat terjadinya kapitalisme pendidikan ini antara lain:

  1. Peran negara dalam pendidikan semakin menghilang;
  2. Masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial ekonomi;
  3. Indonesia juga akan tetap berada dalam sistem kapitalisme global;
  4. Dalam sistem kapitalis negara hanya sebagai regulator/fasilitator;
  5. Pendidikan hanya bisa diakses golongan menengah keatas;
  6. Praktek KKN semakin merajalela;
  7. Kapitalisme pendidikan bertentangan dengan tradisi manusia.

Semua dampak tersebut bermula karena adanya privatisasi yaitu penyerahan tanggung jawab pendidikan ke pihak swasta dan tentunya pemerintah sudah tidak ikut campur tangan dalam pengelolaan sistem pendidikan. Disini pemerintah hanya sebagai regulator/fasilitator dan kebijakan sepenuhnya diserahkan kepada pihak swasta.

Satrio Nugroho, HMI komisariat Ahmad Dahlan.

*

 

Kapitalis pendidikan adalah sesuatu kebijakan Negara yang tidak membatasi kepemilikan perorangan di dalam sektor pendidikan. Orang yang menyelenggarakan pendidikan bisa di kuasai perorangan (swasta / non negeri). Pemerintah hanya memfasilitasi, tanpa ikut campur.

Sangat nyata, masyarakat yang tidak bisa menyekolahkan anaknya di Negeri akan beralih di swasta/non Negeri. Biaya pendidikan swasta lebih mahal di bandingkan dengan Negeri. Dalam hal ini masyarakat yang notabone berpenghasilan menengah kebawah akan sangat bekerja keras untuk membiayai anaknya. Jika biaya semakin mahal tanpa ada kontrol dari pemerintah, bisa jadi anak yang menempuh pendidikan di swasta banyak yang putus sekolah. Mungkin hanya golongan yang berpenghasilan menengah keatas yang bisa menikmati pendidikan di swasta.

Dalam hal ini pemerintah belum bisa mencerdaskan anak bangsa, jika pendidikan di Indonesia tidak memberi kemudahan bagi masyarakat yang berpenghasilan menengah ke bawah dan mempunyai anak yang pengetahuannya minim untuk menempuh pendidikan di swasta karena tidak diterima di Negeri.

Andi Pranata, HMI komisariat Ahmad Dahlan.

*

 

Kapitalisme pendidikan terjadi apabila prinsip kapitalisme digunakan di dalam dunia pendidikan, negara tidak membatasi kepemilikan perorangan di dalam sektor pendidikan, artinya satuan penyelenggara pendidikan dapat dikuasai oleh perorangan (sektor swasta atau aktor non negara), dimana segala kebijakannya diatur oleh sektor swasta tersebut. Ketika  mengikat maka akan terjadi monopoli, sehingga penentuan harga (biaya pendidikan) tanpa ada penawaran dan permintaan terlebih dahulu dengan para pengguna jasa pendidikan. Jelas hal ini akan merugikan bagi pihak pengguna jasa pendidikan, karena mereka tidak diberi kesempatan untuk menawar harga (biaya pendidikan).

Menurut saya terlihat di depan mata  karna ada dampak buruknya yaitu peran negara dalam pendidikan semakin hilang, dalam sistem kapitalis negara hanya sebagai fasilitator.

Dirga Sena Akbari,  HMI komisariat Ahmad Dahlan.

*

 

Secara terminologi, Kapitalisme berarti suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya dengan bebas untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Dapat disimpulkan bahwa kapitalisme pendidikan terjadi apabila prinsip kapitalisme digunakan di dalam  sektor pendidikan, negara tidak membatasi kepemilikan perorangan di dalam sektor pendidikan, artinya satuan penyelenggara pendidikan dapat dikuasai oleh perorangan (sektor swasta atau aktor non negara), dimana segala kebijakannya diatur oleh sektor swasta tersebut.

Sangatlah nyata didepan mata, kita bisa melihat praktik pendidikan kita belakangan ini, disadari atau tidak, telah terjebak dalam dunia kapitalisme. Penyelenggaraan pendidikan adalah bagaimana sekolah dapat menjual kharisma dan kebanggaan sebesar-besarnya sehingga banyak calon siswa membelinya. Penilaian atas kharisma dan kebanggaan sebuah sekolah sifatnya kapital sehingga pendidikan berbiaya mahal dapat dibenarkan.

Mahalnya biaya pendidikan di sekolah-sekolah kita belakangan ini (termasuk sekolah negeri), kini menjadi momok yang menakutkan. Mahalnya biaya pendidikan tersebut mengakibatkan semakin jauhnya layanan pendidikan (yang bermutu) dari jangkauan kaum miskin. Dampaknya akan menciptakan kelas-kelas sosial dan ketidakadilan sosial.

Firman Afrianto, HMI komisariat Ahmad Dahlan.

Kontibutor: MQR. M

*Note: Jawaban sepenuhnya tidak diubah oleh pihak keredaksian, hanya membenarkan EYD dan tanda baca.

 

Tinggalkan Balasan